Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kemampuan Komunikasi dan Pengambilan Keputusan yang Harus Dimiliki oleh Kepala Sekolah

 

Kemampuan-Komunikasi-dan-Pengambilan-Keputusan-yang-Harus-Dimiliki-oleh-Kepala-Sekolah

Berkembangnya ilmu manajemen modern menyebabkan perlunya manajemen pendidikan menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.

Kemampuan pribadi pemimpin belum bisa menjamin keberhasilan dan bila tidak dilihat dan dihubungkan dengan kemampuan melakukan hubungan baik dengan pemimpin lainnya serta bisa mengembangkan bawahannya.

Sekarang kepala sekolah harus mampu mengembangkan kepemimpinan kolektif karena akan sangat banyak berhubungan dengan pemimpin-pemimpin lainnya baik ke atas (Vertical) maupun sejajar (Horizontal), misalnya dengan komite sekolah. Dalam kepemimpinan modern seorang pemimpin seperti halnya kepala sekolah yang harus mengembangkan apa yang disebut dengan "Colaborative Behaviours" yang artinya perilaku kolaborasi atau kerjasama dengan pihak lain berdasarkan prinsip "Win-win Solution".

Komunikasi [Meningkatkan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat]

Dalam rangka meningkatkan hubungan sekolah dengan masyarakat peranan kepala sekolah sebagai komunikator sangat menentukan. Tujuan mengadakan hubungan yang menguntungkan dengan masyarakat adalah dalam rangka sekolah menjadi pusat kegiatan masyarakat. Untuk itu, perlu dirancang kegiatan-kegiatan komunikasi yang akan dilakukan yang akan dapat menarik perhatian masyarakat.

Biasanya masyarakat akan tertarik untuk datang ke sekolah bila menyangkut anak-anak mereka atau ada sesuatu yang menarik mereka. Untuk itu, dalam upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kegiatan masyarakat perlu dirancang kegiatan-kegiatan seperti:

  1. Pameran hasil karya para peserta didik.
  2. Lomba keterampilan seperti membuat alat peraga, memasak, dan lain sebagainya.
  3. Lomba kebersihan kelas dan lomba kebersihan rumah orang tua peserta didik.
  4. Lomba kesenian dan olahraga.

Meningkatkan hubungan sekolah dengan masyarakat (komunikasi) menyangkut perlunya upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Menganalisa kebutuhan masyarakat.
  2. Mengadakan komunikasi.
  3. Melibatkan masyarakat (Komite Sekolah).
  4. Memecahkan masalah bersama dengan masyarakat (Komite Sekolah).

Menganalisa kebutuhan masyarakat luas dilihat dari hal-hal sebagai berikut:

  • Apa yang dibutuhkan.
  • Apa yang sedang ramai dibicarakat masyarakat.
  • Bagaimana pendapat masyarakat terutama tokoh-tokoh masyarakat tentang isu-isu yang sedang ramai dibicarakan.

Mengadakan komunikasi dengan masyarakat bisa dengan cara-cara, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi lisan dengan cara-cara: kontak pribadi dengan pengurus Komite Sekolah, pertemuan dengan kelompok pengurus Komite Sekolah, rapat dengan seluruh orang tua peserta didik, atau dengan komunikasi tulisan berupa edaran-edaran bersama atau surat.

Melibatkan masyarakat atau Komite Sekolah adalah hal yang sangat penting pada setiap sekolah. Beberapa keputusan seperti usulan menyangkut biaya harus selalu melalui musyawarah dengan Komite Sekolah. Keputusan dalam musyawarah itu hendaknya merupakan alternatif yang paling memungkinkan dan paling aman (safe) bila putusan tersebut dilaksanakan. Keputusan yang dilaksanakan bisa menjadi target yang akan dicapai dari putusan selanjutnya atau dari target tersebut.

Hubungan sekolah dengan masyarakat juga harus ditingkatkan dengan penekanan pada hubungan dengan orang tua peserta didik. Peserta didik yang berbuat salah atau melanggar peraturan sekolah harus diatasi dengan cara mengadakan hubungan dengan orang tuanya. Hal ini akan dapat mengurangi hambatan dalam rangka meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih baik.

Hubungan dengan masyarakat juga hendaknya didasarkan atas:

  • Keterbukaan dan saling percaya.
  • Perasaan.
  • Keterbukaan dan partisipasi.
  • Mengatasi hambatan-hambatan.
  • Menghargai perbedaan.
  • Memperbaiki mis komunikasi.

Dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat atau Komite Sekolah banyak faktor yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah terutama dalam komunikasi lisan yang diantaranya adalah sebagai berikut:

Dari segi komunikator sendiri (kepala sekolah)

Dalam hal ini kepala sekolah akan dilihat kemampuannya dalam memimpin sekolah, apa yang dibicarakan, bagaimana cara menyampaikannya, pada siapa disampaikan, dan apa yang diharapkan dari pembicaraan atau tulisan tersebut. Dalam hal ini yang perlu dihindarkan beberapa hal, seperti:

  • Mau menerima kritik.
  • Jangan menghakimi.
  • Terbuka untuk musyawarah.
  • Jangan menilai orang.
  • Punya integritas.
  • Menghargai orang yang diajak musyawarah.

Dari segi isi pesan

  • Isi pesan harus jelas.
  • Isi pesan harus mudah dimengerti.
  • Isi pesan harus merangsang untuk berpikir.

Dari segi komunikan (orang yang mendengarkan)

  • Keadaan komunin seperti keadaan fisik (sakit atau sehat).
  • Adat istiadat (kebiasaan-kebiasaan setempat).
  • Ruang lingkup pengalaman dan pandangan mengenai hal-hal yang aktual.
  • Keadaan kedudukan komunikan seperti jabatan formal dan informal.
  • Situasi dimana komunikan berada.

Faktor-faktor tersebut harus diperhatikan dan diperhitungkan oleh kepala sekolah karena akan menjadi hambatan dalam melakukan komunikasi. Selain itu, terdapat juga gangguan-gangguan, baik teknis maupun non teknis yang mungkin akan mengganggu jalannya komunikasi seperti:

  1. Bahasa yang sulit diterima untuk orang masyarakat. Untuk itu disarankan sebaiknya memakai bahasa daerah setempat.
  2. Emosi masyarakat yang bisa berupa keadaan sedih, gembira, bingung, atau marah.
  3. Pengetahuan tentang apa yang akan dibicarakan.
  4. Luas lingkup pandangan dan pengalaman tentang sesuatu yang akan dibicarakan.
  5. Waktu yang bisa berupa lamanya pertemuan tempat (waktu), dan isi pertemuan.

Pengambilan Keputusan

1. Pengertian

Pengambilan keputusan masalah proses sintesa antara analisa dan penilaian yang berawal dari saran-saran sampai kepada penilaian alternatif yang tepat serta tindakan yang tepat setelah berbagai pertimbangan diperhitungkan.

Efektifnya performance kerja kepala sekolah ditentukan oleh mutu dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan adalah bagian integral dari peranan kepala sekolah. Beberapa pihak bahkan menyatakan bahwa pengambilan keputusan adalah inti dari peranan kepala sekolah. Keputusan yang harus diambil dalam hal prioritas, biaya, waktu, dan lainnya dilimpahkan serta dipecahkan dalam setiap tahap operasional sekolah. Kepala sekolah diberi wewenang dan bertanggung jawab atas hasil keputusan yang diambil.

Dalam mengambil keputusan kepala sekolah harus menggunakan kekuatan yang dikombinasikan dengan risiko yang paling rendah. 

Dua hal, yang penting dalam pengambilan keputusan ialah bertanggung jawab serta waktu yang tepat dimana keputusan tersebut diambil.

2. Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

Adapun tahap-tahap pengambilan keputusan itu adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi dan rumuskan masalah dimana keputusan harus diambil dalam hal yang realistik.
  2. Kumpulkan semua fakta yang menyangkut dengan apa, mengapa, kapan, dan dimana dari orang-orang yang terlibat.
  3. Kembangkan alternatif pemecahan.
  4. Pertimbangkan akibat dari masing-masing alternatif pemecahan tersebut.
  5. Pilihlah pemecahan yang paling tepat.
  6. Cobalah atau ptaktekkan.
  7. Jika setelah dicoba berhasil lalu melakukan evaluasi.

Dalam hal pengambilan keputusan ini Vroom dan Yetton telah membuat sejumlah pertanyaan sebagai bimbingan bagi pemimpin dalam memilih suatu proses keputusan. Adapun pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pemimpin secara jelas memilih suatu proses yang akan menghasilkan suatu keputusan, bagaimana dia mengadakan konsultasi dengan pihak lain atau kelompok sebelum mengambil keputusan.
  2. Sebagian dari itu bagaimana dia membuat hal terbaik yang dia ketahui tentang akibat dari alternatif.
  3. Faktor-faktor apa yang harus diambil untuk dihitung dalam memilih alternatif proses keputusan.

Ada beberapa kriteria dalam memilih alternatif dalam pengambilan keputusan, yaitu:

  1. Mutu atau rasional dari suatu keputusan.
  2. Penerimaan tanggung jawab bawahan dalam melaksanakan keputusan (pelimpahan wewenang).
  3. Waktu yang dibutuhkan dalam membuat keputusan.
  4. Isi keputusan.

Keputusan akan selalu berhubungan dengan hal-hal pokok dalam kasus sekolah yang akan menyangkut tugas yang berhubungan dengan:

  • Program instruksional.
  • Personil.
  • Peserta didik.
  • Keuangan dan sumber-sumber daya fisik.
  • Hubungan sekolah dengan masyarakat.

Selanjutnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan bagi seorang kepala sekolah, yaitu:

  1. Informasi yang akan menyangkut mengenai jumlah, bentuk, serta alur dari informasi yang harus diperhitungkan yang akan menyangkut mutu dari keputusan. Informasi ini harus berupa data yang terorganisir dan relevan bagi keputusan. Arus informasi hendaknya teratur yang merupakan sirkulasi dalam organisasi sekolah.
  2. Nilai. Nilai berhubungan dengan jangkauan dimana alternatif yang mungkin akan sejalan dengan sistem nilai yang ada sebagai akibat dari suatu keputusan.
  3. Layar persepsi. Banyak faktor yang menyangkut persepsi yang mengelilingi kepala sekolah termasuk dengan intelegensia, kreativitas, perlunya disposisi, dan pengalaman yang telah lalu. Di samping variabel situasi organisasi, baik yang formal maupun yang tidak.
  4. Mengukur alternatif. Alternatif berkaitan dengan tindakan yang akan diambil untuk memecahkan masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan, isu-isu, kesempatan-kesempatan, di samping harus diperhatikan tentang validitas, objektivitas, relevansi, efisiensi, dan efektivitas dari masing-masing alternatif.
  5. Mengambil pilihan. Memilih suatu keputusan bagi kepala sekolah bisa cepat atau bisa lambat. Beberapa kepala sekolah mungkin perlu waktu lebih banyak dalam memilih suatu keputusan sebab harus lebih banyak mendapat informasi atau perlu pertimbangan banyak.

3. Pelaksanaan dan Evaluasi

Setelah keputusan dibuat maka harus dilaksanakan. Pelaksanaan akan menyangkut:

  • Apa yang dilaksanakan?
  • Siapa yang akan melaksanakan?
  • Kapan akan dilaksanakan?
  • Bagaimana cara melaksanakan?

Evaluasi menyangkut tentang taksiran, ukuran, serta dugaan hasil yang dicapai dari masalah yang dipecahkan. Tiga tahap dalam mengevaluasi keputusan di sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Keadaan sebelum keputusan dibuat.
  2. Saat ketika keputusan dibuat.
  3. Keadaan setelah keputusan dibuat.

Keadaan sebelum keputusan diambil adalah keadaan intteraksi antar individu dan tingkah lakunya yang mengacu pada alternatif, baik positif maupun negatif. Saat dimana keputusan dibuat adalah tahap yang penting yang merupakan anti klimaks. Keadaan setelah keputusan dibuat adalah menyangkut jumlah dan mutu dari individu apakah terdorong untuk terlibat dan berusaha serta bertanggung jawab.

4. Menentukan Prioritas

Kepala sekolah kadang-kadang dihadapkan pada banyak masalah dan isu-isu yang perlu diperhatikan daripada dapat menyelesaikan dengan efektif. Beberapa isu mungkin mendesak yang lainnya mungkin tidak. Beberapa isu mungkin perlu perhatian lebih seksama di samping yang lainnya mungkin bisa didelegasikan. Kepala sekolah dihadapkan pada perlunya mengambil keputusan dengan segera. Oleh sebab itu, perlu adanya prioritas. Di samping itu perlu juga antisipasi dari konsekuensi yang terjadi.

Prioritas harus dilihat dari segi implementasi, diseminasi dan evaluasi. Hasil studi menunjukkan bahwa lebih banyak waktu memikirkan dan membuat pertimbangan daripada mengklasifikasikan isu dan melaksanakannya.

5. Antisipasi terhadap Konsekuensi

Keputusan akan menghasilkan konsekuensi yang tidak hanya satu keputusan yang satu mungkin akan mempengaruhi yang lainnya yang mungkin melahirkan response yang tidak diharapkan. Untuk itu perlu adanya input dan output analisis yang akan menyangkut dengan mengukur dan alternatif terhadap tindakan yang diambil. Untuk itu perlu mengurangi seminimal mungkin konsekuensi yang harus diantisipasi dari setiap keputusan yang telah dicapai.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan pengambilan keputusan di sekolah adalah dianalisa sesuai dengan dimensi isi, proses, dan keterlibatan. Isi keputusan menyangkut masalah area fungsional dari instruksional, personal, peserta didik, keuangan dan manajemennya, serta hubungan sekolah dengan masyarakat. 

Keputusan mungkin bisa rutin, saat-saat mendesak, atau merupakan kompromi. Tahap-tahap keputusan adalah adanya kesadaran mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah, menentukan alternatif atas keputusan yang akan diambil, dan melaksanakan serta mengevaluasi keputusan. 

Keterlibatan dalam keputusan menyangkut tentang keputusan apa yang dan tingkat partisipasi. Keterlibatan yang cukup menyangkut pertimbangan staf, keahlian, dan kelayakan. 

Kepala sekolah perlu terampil dalam menentukan struktur pengambilan kesimpulan yang tepat, membedakan dari keputusan yang bermacam-macam, menentukan tindakan, mengurangi hambatan, dan mengantisipasi hasil dari keputusan.

Terima Kasih.

Salam Literasi!

Post a Comment for "Kemampuan Komunikasi dan Pengambilan Keputusan yang Harus Dimiliki oleh Kepala Sekolah"