Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Belajar dari Pengalaman Negara Australia, Amerika Serikat dan Inggris dalam Menyelenggarakan PTM Terbatas

Belajar-dari-Pengalaman-Negara-Australia,-Amerika-Serikat-dan-Inggris-dalam-Menyelenggarakan-PTM -erbatas

Laporan UNICEF pada September 2020 menyebut, sekitar 24 juta siswa di dunia terancam putus sekolah akibat penutupan sekolah dan tak adanya kegiatan belajar mengajar tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Data itu diungkapkan Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore dalam konferensi video WHO dan UNESCO.

Setahun pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan akibat pandemi Covid-19 di Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pun mencatat adanya risiko dampak sosial negatif yang berkepanjangan akibat PJJ seperti putus sekolah, penurunan capaian belajar, kekerasan pada anak, dan risiko eksternal lainnya.

Agar anak-anak Indonesia tidak mengalami learning loss, Kemendikbudristek akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada tahun ajaran baru Juli 2021 mendatang. Sebelumnya, beberapa negara juga telah melakukan hal yang sama di tengah pandemi yang masih melanda dunia.

Guna mempersiapkan PTM Terbatas, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek pun menggelar sharing session secara daring terkait praktek pembelajaran tatap muka di berbagai negara, pekan lalu.

Narasumbernya adalah para orang tua asal Indonesia yang tinggal di 3 negara yaitu Amerika Serikat, Australia dan Inggris. Mereka adalah Ade Dwi Utami, ibu sekaligus mahasiswa di Melbourne, Australia, Ana yang tinggal di Amerika Serikat, dan Yohan Rubiyantoro (orang tua sekaligus mahasiswa di Inggris).

Australia

Ade Dwi Utami menceritakan kondisi pendidikan khususnya sekolah anaknya di jenjang sekolah dasar di Melbourne, Australia. Dwi mengatakan pembelajaran tatap muka di sekolah anaknya sempat dibuka, lalu ditutup kembali, dan minggu ini sekolah akan dibuka lagi.

“Selama setahun ini Melbourne agak up and down. Tahun lalu benar-benar sekolah ditutup, sama sekali tidak ada kegiatan pendidikan. Setelah itu sekolah dibuka perlahan, tapi sampai hari ini kondisinya masih online. Nah besok sudah diberlakukan sekolah tatap muka. Jadi di sini sih tergantung situasi, kalau misalnya kondisinya mengkhawatirkan atau berbahaya mereka langsung tutup sekolah,” paparnya.

Dwi menyampaikan, baik sekolah tatap muka maupun online fokus utamanya adalah belajar harus di tempat terbuka untuk menghindari jenuh. Oleh karena itu metode pembelajaran berbasis project based learning sangat cocok dilakukan di sekolah yang PTM maupun online di era saat ini.

“Tapi kembali lagi ke gurunya harus mampu memberikan kebebasan kepada peserta didik, apakah kegiatan belajarnya mau melakukan project based learning atau tidak. Dan guru memang harus ada incharge di situ,” terangnya.

Amerika Serikat

Ana yang anaknya duduk di bangku sekolah dasar di Amerika Serikat menceritakan, pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan sejak Januari 2021. Meski demikian orang tua diberikan opsi apakah anaknya tetap melaksanakan sekolah remote learning alias daring atau sekolah tatap muka. Selain itu untuk tatap muka dilaksanakan setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat. Sementara hari Rabu tetap full remote learning.

“Nah, hari rabu itu digunakan untuk pihak sekolah melakukan pembersihan terhadap kelas yang sudah dipakai hari kemarin. Saya dan suami sebagai orang tua sepakat memutuskan anak kami ikut sekolah tatap muka,” ujarnya.

Ana menceritakan di sekolah tempat anaknya belajar, pihak sekolah setiap bulan melakukan survei apakah peserta didiknya ingin masuk sekolah kembali atau memilih untuk online. Setiap bulan juga para orang tua selalu ditanya oleh pihak sekolah seperti apa perkembangan kondisi anak.

“Di sini sekolah tatap muka itu harus full pakai masker. Anak saya ke sekolah naik bus, jadi mereka yang memilih sekolah tatap muka dilengkapi name tag yang isinya semacam daftar periksa. Misalnya, kondisi anak harus dicek apakah dia demam atau flu, atau ada keluhan lain. Sebelum anak sekolah kita harus cek dan orang tua harus memberikan tanda tangan di name tag tersebut dan anak pun boleh berangkat ke sekolah,” papar Ana.

Begitu juga dengan sopir bus sekolahnya yang juga ikut mengecek name tag peserta didik apakah sudah diberikan tanda tangan atau belum oleh orang tuanya. Di dalam bus juga Ana anak-anak dicek kembali apakah suhu tubuhnya normal atau ada gejala demam.

“Kalau normal anak kita diperbolehkan naik bus, dan selama di sekolah wajib menggunakan masker, nggak boleh dilepas,” katanya.

Ana menambahkan, guru di sana memberikan pendampingan belajar via aplikasi agar orang tua dapat memantau setiap guru memberikan tugas seperti apa kepada peserta didik.

“Tapi yang paling menarik yang saya lihat mereka tidak memaksakan anaknya harus bisa setiap kali dikasih tugas. Selain itu anak-anak juga selalu dikasih pilihan, kamu bisa mengerjakan ini kalau misalnya mereka mau. Guru-guru juga memberikan rentang waktu yang cukup lama untuk murid-muridnya menyelesaikan tugas. Dan apabila ada kesulitan guru memberikan waktu khusus untuk diskusi,” ujar Ana.

Inggris

Sementara itu Yohan Rubiyantoro, orang tua sekaligus mahasiswa di Inggris menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka di Inggris ada beberapa hal yang sama dan ada beberapa hal yang berbeda dengan Australia dan Amerika, seperti yang dipaparkan oleh Dwi dan Ana.

Yohan menceritakan kondisi pembelajaran disesuaikan dengan situasi pandemi yang terjadi. Pada awal pandemi, Inggris melakukan lockdown pertama kali pada tanggal 23 Maret 2020. Seluruh aktivitas ekonomi dan sekolah mulai dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi ditutup. Beberapa bulan kemudian seiring dengan kasus Covid-19 menurun, pada tanggal 1 Juni 2020 lockdown sudah dibuka dan sekolah juga dibuka.

“Pembukaan sekolah dilakukan secara bertahap, tidak semua jenjang dibuka PTM, hanya pendidikan usia dini dan siswa kelas 6 sekolah dasar yang dibuka. Sebagai orangtua saya waktu itu memilih untuk tetap remote class atau online bagi anak saya,” ujar Yohan.

Beberapa bulan kemudian setelah kasus Covid-19 terus menurun, pemerintah Inggris pun membuka sekolah tatap muka secara full, dan tidak ada lagi pilihan untuk orang tua. Jadi sifatnya sudah wajib semua harus masuk sekolah.

Akan tetapi pada bulan September 2020 tiba-tiba ada varian Covid-19 baru sehingga kasus pun melonjak tajam menyampai satu juta kasus. Pada akhir tahun 2020 lalu pemerintah Inggris menutup kembali sekolah. “Jadi bulan Januari 2021 Inggris lockdown lagi. Baru kemudian pada 8 Maret 2021 sekolah sudah dibuka sampai saat ini,” imbuhnya.

Terkait teknik pembelajaran tatap muka, Yohan menjelaskan sekolah-sekolah di Inggris memperbanyak porsi pembelajaran di luar ruangan seperti di lapangan sekolah maupun di taman. Sehingga murid tidak merasa bosan. Selain itu untuk risiko paparan Covid-19 relatif lebih kecil.

“Tapi belajar dari kasus di Inggris yang sudah dua kali buka tutup sekolah, ada hal menarik yang saya cermati. Di bulan September tahun lalu ketika Inggris memutuskan pertama kali memulai sekolah tatap muka, sekolah di kota tempat saya tinggal baru satu minggu dibuka ada dua sekolah lainnya yang ditutup kembali. Karena ada guru yang terpapar Covid-19. Satu bulan setelah sekolah dibuka itu ada sekitar 68 sekolah yang ditutup kembali karena ada guru ataupun warga sekolah yang terpapar Covid-19. Jadi ini bisa menjadi pelajaran buat Indonesia kalau nanti pemerintah memutuskan untuk membuka PTM, protokol kesehatan harus benar-benar dijaga ketat dan harus ditaati bersama,” kata Yohan.

Sementara itu untuk prosedur PTM yang dilakukan di sekolah di Inggris, untuk jam masuk dan jam pulang dari setiap kelas selalu dibedakan. Tujuannya agar orang tua yang menjemput putra-putri mereka tidak berkerumun. Kemudian untuk prosedur antar jemput anak sekolah rutenya dibuat berbeda antara keluar dan masuk. Peserta didik diwajibkan melakukan mencuci tangan, sekolah juga selalu menyediakan hand sanitizer.

“Ada satu hal yang menarik dimana alat tulis sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Jadi tiap anak mendapat 1 bungkus perlengkapan alat tulis. Kemudian untuk area-area yang biasa digunakan oleh anak-anak seperti keran dan gagang pintu itu dibersihkan oleh sekolah secara rutin. Inggris juga menggunakan sistem belajar kelompok. Jadi setiap anak dari satu kelas itu dibikin kelompok-kelompok kecil, setiap beraktivitas kelompok-kelompok kecil ini terpisah. Tujuannya ketika ada satu anak di kelompok itu ternyata positif Covid-19, maka si anak dan satu kelompok kecil ini saja yang tidak boleh masuk selama satu minggu. Si anak diperbolehkan masuk setelah melakukan karantina dan dinyatakan sehat,” katanya.

Rencana di Indonesia

Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbud Ristek, Sri Wahyuningsih menjelaskan tentang rencana pembelajaran tatap muka terbatas yang akan digelar di Indonesia pada Juli 2021 mendatang.

Ia menjelaskan, Pemerintah Indonesia melalui SKB Empat Menteri telah mengatur apabila dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka ada guru, peserta didik atau orang tua peserta didik terkonfirmasi positif Covid-19. 

”Jika itu terjadi, sekolah tersebut harus ditutup sampai batas waktu tertentu, dan sekolah baru dibuka kembali setelah dinyatakan aman untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka,” kata Sri Wahyuningsih.

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 sekarang ini, Kemendikbudristek telah mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah di zona merah tidak boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Tetapi sekolah-sekolah di zona aman bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka terbatas dengan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan dalam SKB Empat Menteri.

”Kami menyampaikan keprihatinan atas kondisi lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kita harus memprioritaskan kesehatan dan keselamatan kita, terutama di daerah zona merah. Untuk daerah yang masuk zona hijau dan zona aman lainnya, kami mendorong PTM terbatas dapat segera dipersiapkan dengan menegakkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Sri Wahyuningsih.

Misalnya, lanjut Sri Wahyuningsih, sekolah harus melengkapi daftar periksa. Kemudian perencanaan dan pengawasan dilakukan secara terkoordinasi, memastikan PTM terbatas tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah. Dengan demikian, diharapkan kebijakan ini dapat mengurangi dampak lose learning dan mendorong perubahan prilaku. Sudah cukup lama anak-anak belajar di rumah sehingga diperlukan interaksi di sekolah guna mendorong penguatan karakter anak-anak didik.

”Sekolah harus memenuhi berbagai kriteria sebelum melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19 ini. Semua pihak perlu sama-sama mendukung, mempersiapkan, dan ikut memantau pelaksanaannya,” ujar Sri Wahyuningsih.

Terima Kasih.

Salam Literasi!

Post a Comment for "Belajar dari Pengalaman Negara Australia, Amerika Serikat dan Inggris dalam Menyelenggarakan PTM Terbatas"