Sejarah Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Table of Contents

 Sejarah-Logo-Kementerian-Pendidikan-dan-Kebudayaan


INFO DAPODIK & PENDIDIKAN - Sejarah Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah judul atau tema dari informasi ini.

Pada kesempatan ini Admin akan membagikan informasi mengenai Sejarah Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk Anda semua disini.

Semenjak Republik Indonesia diproklamasikan pada Tanggal 17 Agustus 1945, lembaga yang mengemban sebagian tugas umum pemerintahan di bidang pendidikan dan kebudayaan, berawal dengan bentuk Kementerian Pengajaran hingga menjadi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, belum pernah memiliki sebuah lambang/ logo.

Seiring perkembangannya, baik dilihat dari tugas pokok dan sasarannya, maupun struktur organisasi dan jumlah pegawainya, menyebabkan timbulnya masalah yang cukup kompleks dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya.

Maka diputuskan untuk membuat lambang Departemen, dengan spesifikasi/ ciri-ciri khas yang menjiwainya antara lain:

  • Lambang hendaknya merupakan visualisasi tugas pokok Departemen, yang berarti visualisasi identitas Departemen;
  • Lambang Departemen hendaknya hanya satu dan berlaku untuk seluruh unit organisasi dalam lingkungan Departemen, baik di pusat maupun di daerah.

Untuk menggali unsur-unsur identitas Departemen/ unsur-unsur yang menyangkut pengabdian aparaturnya, perlu mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi melalui sayembara pembuatan lambang.

Sayembara pembuatan logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diiklankan dan disiarkan melalui beberapa Surat Kabar Nasional, ternyata mendapat sambutan yang cukup memuaskan dari masyarakat. 

Terbukti dengan banyaknya gambar yang diterima Panitia, yaitu tidak kurang dari 1600 buah.

Dari hasil penilaian oleh tim juri, ternyata tidak muncul sebuah pun gambar yang sepenuhnya memenuhi norma penilaian, tetapi terpilih 10 gambar yang dapat digolongkan terbaik dan ditetapkan sebagai gambar-gambar yang mendapat hadiah.

Dari kesepuluh gambar terbaik tersebut, diadakan modifikasi, yang akhirnya melahirkan sebuah Lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 6 September 1977 No. 0398/M/1977.

Sejarah singkat diatas selanjutnya menjadi dokumen yang mempunyai nilai sejarah terbentuknya lambang Departemen/ logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat dibaca pada lampiran di artikel ini.

Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Logo/ Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 dengan uraian lambang sebagai berikut:

Lambang-Kementerian-Pendidikan-dan-Kebudayaan
Lambang Kemendikbud

Uraian Lambang:

    1. Bidang Segi Lima (Biru Muda) 

    • Menggambarkan alam kehidupan Pancasila.

      2. Semboyan Tut Wuri Handayani 

      • Digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

        3. Belencong Menyala Bermotif Garuda 

        • Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. 
        • Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
        • Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas.
        • Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: ‘satu kata dengan perbuatan Pancasilais’.

            4. Buku 

            • Merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

              5. Warna

              • Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih. 
              • Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian.
              • Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup Pancasila).

              Sumber

              • Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 6 September 1977, No.: 0398/M/1977 tentang penetapan Lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

              • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2013, tentang Tata Naskah Dinas Di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

              Tut Wuri Handayani 

              Mengenai sejarahnya, tidak akan lepas dari pahlawan pendidikan KI Hajar Dewantara dan juga pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Institut Taman Siswa) pada 3 Juli 1922.

              Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889 - 26 April 1959) adalah seorang tokoh pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

              Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

              Di masa inilah Ki Hajar Dewantara mencetuskan Tut Wuri Handayani yang terdapat juga dalam 7 pasal asas pendidikan di Taman Siswa yang merupakan perjuangan untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda dan sekaligus mempertahankan kelangsungan hidup dan sifat yang nasional dan demokrasi.

              Semangat mengajar Ki Hajar Dewantara menjadi cikal bakal semboyan dan lambang pendidikan yang kita gunakan saat ini. 

              Hal tersebut tercerminkan dari keputusan Beliau mengganti nama gelar kebangswanan dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dan mengajar secara ikhlas.


              Tulisan Ki Hajar yang terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913. Artikel tersebut ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Indonesia.


              Saat pembentukan Kabinet Republik Indonesia yang pertama, Ki Hajar Dewantara ditunjuk Presiden Soekarno menjadi Menteri Pendidikan. 

              Semenjak itu, Ki Hajar Dewantara semakin dikenal sebagai tokoh atau pahlawan yang meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

              Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, (2 Mei) dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia dan menjadi Bapak Pendidikan Indonesia. 

              Nama Ki Hajar juga diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia "KRI Ki Hajar Dewantara". 

              Selain itu, perguruan Taman Siswa yang ia dirikan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

              Untuk mengenang jasa-jasanya, ditetapkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, Tanggal 28 November 1959 perihal penetapan Hari Pendidikan Nasional yang sama seperti hari lahir Ki Hajar Dewantara di tanggal 2 Mei.

              Agar semakin memahami makna Tut Wuri Handayani, berikut beberapa contoh pelaksanaanya dalam kehidupan sehari-hari:

              • Ing Ngarso Sung Tulodo, yang berarti di depan memberikan contoh atau teladan. Contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari ialah saat guru mengajar menggunakan metode ceramah atau memberikan nasihat, ia harus benar-benar siap dan tahu bahwa apa yang diajarkannya tersebut adalah baik dan benar.
              • Ing Madyo Mangun Karso, yang berarti di tengah membimbing, memotivasi, dan memberikan semangat. Hal ini ini dapat tercermin saat kegiatan belajar mengajar guru menggunakan metode diskusi. Sebagai pendidik, guru diharapkan dapat memberikan masukan atau arahan yang relevan dan berguna bagi anak didiknya.
              • Tut Wuri Handayani, yang berarti di belakang memberikan dorongan. Contoh pelaksanaan ini dapat terlihat saat guru mengamati, mengikuti, dan mengarahkan anak didik dari belakang dalam mengimplementasikan apa yang dipelajarinya.

              Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah "tut wuri handayani". Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya "ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita.


              Saat guru mengimplementasikan semboyan pendidikan ini, di depan memberikan contoh atau teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan, maka anak didik diharapkan dapat berusaha secara mandiri dan bersaing dengan sehat.

              Lampiran

              Buku Tut Wuri

              Buku Tut Wuri yang didalamnya terdapat dokumen/ arsip Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 6 September 1977, No.: 0398/M/1977 tentang penetapan Lambang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


              Buku Tut Wuri


              Permendikbud Nomor 6 Tahun 2013

              Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2013, tentang Tata Naskah Dinas Di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


              Permendikbud Nomor 6 Tahun 2013 Lampiran


              Logo Kemendikbud


              Manual Logo_PDF Orisinal_Vektor_PDF Orisinal_PNG Orisinal_JPG Orisinal_BW_PNG Orisinal_BW_JPG


              Demikian penjelasan mengenai Sejarah Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, semoga dapat bermanfaat. 

              Terima Kasih.

              Salam Literasi!

              Salam Satu Data Pendidikan Indonesia.

              Post a Comment