Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Tentang Microlearning

 

Tentang-Microlearning

Microlearning adalah metode pembelajaran yang dilakukan oleh para pengajar dengan cara yang lebih singkat. Jika diartikan secara sederhana, microlearning adalah metode pembelajaran untuk jangka pendek. 

Microlearning berkaitan dengan unit pembelajaran yang relatif kecil dan kegiatan pembelajaran jangka pendek. Istilah ini digunakan dalam e-learning dan bidang terkait dalam arti proses pembelajaran di lingkungan yang dimediasiMicrolearning adalah pendekatan holistik untuk pembelajaran dan pendidikan berbasis keterampilan yang berhubungan dengan unit pembelajaran yang relatif kecil. Ini melibatkan strategi fokus jangka pendek yang dirancang khusus untuk pemahaman/pembelajaran/pendidikan berbasis keterampilan.

Terminologi Micro-Learning secara luas digunakan di organisasi / perusahaan sekitar tahun 2005, seiring dengan tumbuhnya kesadaran bahwa pembelajaran tidak melulu dilakukan didalam kelas dengan durasi yang panjang.

Microlearning sebagai metode pembelajaran jangka pendek memang lebih sering digunakan dalam perusahaan, misalnya dalam pelaksanaan training. Tidak bisa dipungkiri bahwa hampir semua perusahaan bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dengan menekan pengeluaran, tapi tetap mengutamakan kualitas dan pelayanan yang diberikan pada konsumen atau pelanggan.

Microlearning merupakan salah satu metode pembelajaran yang membutuhkan waktu lebih singkat. Itulah mengapa microlearning atau microteaching sering disebut sebagai pembelajaran dengan jangka pendek. Sebenarnya, microlearning tidak memiliki definisi baku yang bisa diberikan, namun dengan pengertian tersebut tentunya kita sudah bisa memahami prinsip dari metode ini.

Microlearning sebagai metode pembelajaran dengan waktu yang singkat, seperti training, seminar, workshop dan lain sebagainya.

Pembelajaran ini biasanya dilaksanakan dalam hitungan hari atau bahkan jam. Terkadang Kita juga mendapatkan sertifikat untuk pembelajaran singkat tersebut sebagai pengakuan bahwa Kita pernah mempelajari skill atau ilmu tentang isi dari pembelajaran tersebut. Sertifikat ini terkadang berguna dalam melamar pekerjaan karena memperlihatkan keterampilan atau kemampuan kita.

Microlearning biasanya diadakan oleh lembaga pendidikan, seperti sekolah, kampus atau bisa juga diadakan oleh perusahaan. Berbagai tema dan konsep microlearning bisa dijumpai sekarang ini sehingga belajar tidak harus menempuh pendidikan yang lama, tapi juga bisa dengan mengikuti microlearning sebagai metode pembelajaran yang singkat.

Berikut adalah beberapa contoh konten pembelajaran microlearning yang dapat Kita pilih:

  1. Teks: Untuk teks ini, Kita dapat mengambil frase atau paragraf pendek yang mudah dipahami oleh para pelajar.
  2. Gambar: Gambar ini dapat berupa foto yang diambil secara nyata dan juga dapat berupa ilustrasi.
  3. Video: Kita dapat membuat video pendek sebagai bagian dari pembelajaran.
  4. Audio: Rekaman suara dari pengajar untuk para pelajar.
  5. Tes dan kuis.
  6. Game dalam proses belajar mengajar.

Penting bagi Kita untuk mengetahui bahwa tidak semua metode pembelajaran mikro dapat dilakukan dengan menggunakan semua metode di atas. Kita perlu membuat konten yang harus disesuaikan dengan kebutuhan atau aplikasi pembelajaran yang Kita miliki. Contoh, Kita menggunakan Learning Management System (LMS), Kita perlu menanyakan pada provider apakah mereka mendukung semua metode tersebut.

Banyak sistem yang hanya mendukung teks untuk menjalankan proses pembelajaran microlearning ini. Kita harus melakukan seleksi dengan baik agar tidak salah dalam menggunakan sistem. 

Tujuan dari Metode Microlearning

Setiap metode pembelajaran tentu memiliki tujuannya masing-masing sehingga bisa memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan. Seperti halnya microlearning yang memiliki dua tujuan, yaitu untuk peserta atau siswa dan untuk pemberi materi atau pengajar/guru. Tentunya harus memahami tujuan dari microlearning agar bisa menyesuaikan tema dan konsepnya.

Tujuan untuk peserta/karyawan atau siswa

  1. Memberikan pelatihan sejumlah keterampilan dasar dalam bekerja sesuai bidang kerja yang dipilih dengan memberikan pengalaman nyata.
  2. Memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengembangkan keterampilan yang dimilikinya sebelum mereka mengerjakan tanggung jawabnya sebagai karyawan.
  3. Untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan latihan keterampilan dan memahami kapan waktunya untuk menerapkan keterampilan tersebut.

Tujuan untuk pemberi materi/pengajar

  1. Untuk memberikan penyegaran keterampilan dasar yang dimilikinya.
  2. Untuk menambah pengalaman dan mengembangkan profesinya.
  3. Untuk mengembangkan sikap terbuka terhadap kritik atau kekurangan yang mungkin dimiliki dan terbuka dengan pembaharuan di dunia kerjanya.

Manfaat yang Didapat dari Microlearning

Selain tujuan, juga diperlukan untuk memahami tentang manfaat apa yang didapatkan dengan memilih metode pembelajaran singkat ini. Menurut ahli bernama Brown dan Ametrong (1975), diketahui bahwa ada enam manfaat dari microlearning yang bisa didapatkan. Dengan begitu, akan lebih yakin dalam mengikuti atau melaksanakan microlearning

Berikut enam manfaat dari metode microlearning adalah sebagai berikut:

  1. Mampu meningkatkan kemampuan peserta atau karyawan dalam bekerja sesuai bidangnya karena telah mendapatkan pembelajaran atau pelatihan.
  2. Meningkatkan keterampilan saat bekerja karena telah mengikuti microlearning yang bersifat aplikatif sehingga ilmunya bisa langsung diaplikasikan di dunia kerja.
  3. Meningkatkan prestasi, artinya karyawan yang telah mengikuti microlearning mampu menunjukkan prestasinya di dunia kerja dibanding karyawan yang tidak mengikuti microlearning. Sayangnya, pengajaran dalam waktu singkat ini kurang memperlihatkan hasil bagi peserta atau karyawan yang sudah memiliki kemampuan tinggi di bidang kerjanya.
  4. Lingkungan kerja menjadi lebih baik karena pembelajaran singkat ini biasanya disematkan humor atau games sehingga interaksi antar karyawan menjadi lebih santai.

Microlearning memberikan manfaat yang lebih signifikan untuk keterampilan karyawan dibanding pembelajaran lisan atau nasihat saja.

Karakteristik dari Metode Microlearning

Sebenarnya, kita sudah mengenal banyak jenis metode pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan atau ilmu pengetahuan di bidang kerja. Tapi, setiap metode pembelajaran pasti memiliki ciri khas masing-masing, begitu juga dengan microlearning sebagai metode pembelajaran yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding metode pembelajaran lainnya.

Ciri khas pertama adalah jumlah peserta atau karyawan yang mengikuti microlearning cukup sedikit, yaitu antara 5 sampai 10 orang. Waktu yang dibutuhkan dalam pembelajaran ini juga cukup terbatas, mulai dari dalam hitungan menit, jam, hingga hari. Waktu yang singkat ini membuat tujuan pembelajaran harus tercapai.

Salah satu caranya adalah dengan membatasi jumlah peserta yang ikut agar pemberi materi bisa lebih fokus pada semua peserta sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan baik. Waktu yang terbatas juga memengaruhi bahan atau materi yang diajarkan menjadi lebih sedikit sehingga harus bisa dipilih materi terbaik.

Bukan hanya itu, komponen mengajar yang dikembangkan juga terbatas, tidak seperti metode pembelajaran yang berlangsung lama sehingga bisa berganti-ganti atau menggunakan berbagai komponen mengajar. Itulah mengapa diperlukan keterampilan pemberi materi untuk memanfaatkan waktu singkat yang tersedia untuk memaksimalkan pembelajaran agar mencapai tujuan.

Fungsi Secara Umum dari Metode Microlearning

  1. Fungsi instruksional di mana pembelajaran ini berfungsi untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan karyawan. Fungsi ini juga menggambarkan bagaimana kita menerapkan pengetahuan metode dan teknik mengajar dalam dunia kerja.
  2. Fungsi pembinaanPembelajaran ini berfungsi untuk memberikan pembekalan dan pembinaan bagi para karyawan sebelum terjun langsung ke bidang pekerjaannya nantinya. Dengan begitu, karyawan akan lebih siap dan mampu menentukan langkah terbaik dalam menyelesaikan tanggung jawabnya di bidang kerjanya.
  3. Fungsi integralistik di mana metode pembelajaran ini juga berguna untuk menguji kualitas yang dimiliki oleh karyawan, apakah memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
  4. Fungsi eksperimen atau uji coba karyawan terhadap strategi yang dimilikinya, apakah memberikan hasil yang baik.

Microlearning, Sebuah Trend Baru dalam Mendesain Learning Object 

Cara belajar yang dilakukan pelajar milenial di tengah maraknya perkembangan teknologi digital tentunya berbeda dengan cara belajar di era konvesional. Pelajar saat ini bisa menemukan berbagai informasi melalui komputer atau ponsel yang tersambung internet. Mengacu dari hal tersebut, berkembang juga cara belajar secara online (e-learning) dengan metode dan teori yang terbentuk dalam sebuah sistem belajar atau biasa dikenal dengan LMS (Learning Management System). LMS tersebut adalah sistem yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pelajar ketika belajar tanpa harus tatap muka dengan guru di sekolah.

Pada kenyataannya e-learning tidak selalu membuat proses belajar berjalan optimal, terkadang beberapa tujuan dari belajar itu sendiri tidak  tercapai. Ketika diamati kembali, sebagian pelajar  yang menggunakan sistem e-learning mudah terdistraksi oleh banyak notifikasi dari sosial media, games online atau hal lain di luar konteks pembelajaran.  Oleh sebab itu, menyajikan sebuah materi atau konten dalam e-learning menjadi sebuah tantangan yang harus menjadi perhatian, bagaimana menemukan sebuah strategi yang menjadi solusi dalam menyajikan konten yang baik, menarik dan mudah dimengerti  pelajar di tengah banyak gangguan yang dapat mengalihkan fokus saat belajar.

Berlandaskan hal tersebut, muncul strategi baru yaitu Microlearning yang digadang-gadang dapat membantu pelajar mencapai tujuan belajar dalam e-learning. Microlearning terdiri dari dua kata (Micro/Mikro: ukuran kecil) dan (Learning: kegiatan belajar) sehingga dapat diartikan sebagai kegiatan belajar dengan skala yang kecil. Microlearning digunakan sebagai strategi dalam merancang konten belajar menjadi segmen-segmen kecil dan terfokus. Konten yang dimaksud berupa learning object yang digunakan dalam e-learning. Contoh dari learning object tersebut seperti video singkat,  infografis,  gambar, artikel, bahkan kutipan.

Dengan Microlearning, konten belajar dengan durasi yang cukup panjang disajikan menjadi video singkat dengan durasi 1 – 3 menit, bahkan bisa dijadikan hanya satu infografis dalam satu lembar. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kelebihan kognitif siswa sehingga konten mudah untuk diserap dan diingat. Penyajian dengan strategi microlearning menghasilkan jenis konten yang singkat, praktis dan dapat diakses kapan saja dan dimana saja ketika dibutuhkan. Microlearning dikatakan mampu membuat proses pembelajaran dalam e-learning lebih efektif karena  4 alasan, yaitu:

  1. Konten belajar dibuat sangat kecil (Bite sized)Seperti yang sudah disebutkan, fokus saat siswa belajar akan mudah teralihkan oleh gangguan lain diluar konteks belajar , oleh sebab itu penyajian materi yang singkat lebih mudah untuk dimengerti.
  2. Spesifik. Sesuai dengan ukuran yang kecil, konten yang disajikan tidak penuh dengan teori saja, melainkan satu teori dengan satu contoh atau praktek yang sesuai dengan masalah yang sering di temukan.
  3. Cepat. Penyajian konten yang singkat akan menghasilkan waktu belajar yang singkat, sehingga ketika di akses di ponsel, satu learning object bisa di pahami dengan cepat. Sehingga pelajar tidak terditraksi dengan gangguan luar konteks belajar.
  4. Menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhanLearning object dapat dibuat dapat sewaktu-waktu dibutuhkan sehingga memudahkan untuk pelajar untuk mencari dan mengakses kembali konten tersebut.

Kesimpulan

Microlearning digunakan sebagai strategi dalam merancang konten belajar menjadi segmen-segmen kecil dan terfokus. Konten yang dimaksud berupa learning object yang digunakan dalam e-learning. Contoh dari learning object tersebut seperti video singkat, infografis, gambar, artikel, bahkan kutipan.

Membagi konten menjadi segmen-segmen kecil dan fokus dapat membantu peserta pelatihan untuk lebih mudah menerima serta memahami informasi yang diberikan. Tak hanya itu, belajar dengan konten yang ringkas dan singkat juga memudahkan peserta untuk mengingat materi dan mengimplementasikannya.

Untuk mengoptimalkan penggunaan e-learning sebagai metode pelatihan, tercipta sebuah inovasi yaitu microlearningMicrolearning merupakan sebuah strategi untuk menyusun konten menjadi segmen-segmen kecil dan fokus. Konten dapat berupa video, infografis atau artikel dengan durasi singkat sekitar 5 menit.

Metode pencacahan materi sangat aplikatif untuk diterapkan dalam pembelajaran menggunakan ponsel karena fleksibel untuk diakses kapan saja dan tidak mengganggu produktivitas peserta pelatihan. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan sistem belajar macro-learning.

Semoga bermanfaat...

Salam Literasi!

Sumber:
  • Margol, Elise.G. 2017. Microlearning to Boost the Employee Experience. USA: TDatwork.
  • https://codemi.co.id/mengenal-metode-pembelajaran-micro-learning/

Post a Comment for "Tentang Microlearning"