Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Langkah-langkah Berpikir/ Bernalar Kritis

Berpikir Kritis

INFO DAPODIK & PENDIDIKAN. Pada pembahasan kali ini Admin akan menginformasikan tentang Langkah-langkah Berpikir/ Bernalar Kritis, silahkan disimak ya.

The Statewide History-social science Assesment Advisory commitee (Kneedler dalam Costa, 1985) mengemukakan langkah berpikir kritis seperti disalin Wahidin (2008), yang dapat dikelompokkan menjadi tiga langkah, yaitu sebagai berikut: 

  • pengenalan masalah masalah (defining/clarifying problems), 
  • menilai informasi (judging informations) dan 
  • memecahkan masalah atau menarik kesimpulan (solving problems/drawing conclusion). 

Lebih rinci diungkapkan bahwa untuk melakukan langkah-langkah itu diperlukan keterampilan yang dinamai Twelve Essential Critical Thinking Skills (12 keterampilan esensial dalam berpikir kritis), berikut:

Mengenali masalah (defining and clarifying problem)

  • Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
  • Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan.
  • Memilih informasi yang relevan.
  • Merumuskan/ memformulasi masalah.

Menilai informasi yang relevan

  • Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar/ judgment.
  • Mengecek konsistensi.
  • Mengidentifikasi asumsi.
  • Mengenali kemungkinan faktor stereotip.
  • Mengenali kemungkinan bias, emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat (semantic slanting).
  • Mengenali kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.

Pemecahan Masalah/ Penarikan kesimpulan

  • Mengenali data-data yang diperlukan dan cukup tidaknya data.

  • Meramalkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari keputusan/ pemecahan masalah/ kesimpulan yang diambil.


Secara sederhana, Wolcott dan Lynch (1997) mendeskripsikan langkah-langkah memulai proses berpikir kritis di sekolah. 

Siswa hendaknya memulai proses berpikir kritis dengan langkah 1 dan dengan latihan beralih menuju langkah 2 serta jenjang selanjutnya.

Berikut langkah-langkah proses berpikir kritis:

Langkah 1

Mengidentifikasi masalah, informasi yang relevan dan semua dugaan tentang masalah tersebut. 

Ini termasuk kesadaran akan kemungkinan adanya lebih dari satu solusi.

Langkah 2

Mengeksplorasi interpretasi dan mengidentifikasi hubungan yang ada. 

Ini termasuk mengenali bias/ prasangka yang ada, menghubungkan alasan yang terkait dengan berbagai alternatif pandangan dan mengorganisir informasi yang ada sehingga menghasilkan data yang berarti.

Langkah 3

Menentukan prioritas alternatif yang ada dan mengkomunikasikan kesimpulan. 

Ini termasuk proses menganalisis dengan cermat dalam mengembangkan panduan yang dipakai untuk menentukan faktor, dan mempertahankan solusi yang terpilih.

Langkah 4

Mengintegrasikan, memonitor dan menyaring strategi untuk penanganan ulang masalah. 

Ini termasuk mengetahui pembatasan dari solusi yang terpilih dan mengembangkan sebuah proses berkelanjutan untuk membangkitkan dan menggunakan informasi baru.


Masalah kita adalah bagaimana cara mengajarkan keterampilan berpikir tersebut di sekolah sehingga bisa menjadi sesuatu yang dapat memperbaiki belajar siswa.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk melakukan hal ini, yaitu keterampilan berpikir dijadikan terpadu dengan bidang studi yang diajarkan atau keterampilan berpikir diajarkan secara terpisah. 

Beberapa prinsip prinsip yang harus diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain dikemukakan Sutrisno (2009) berikut: 

  • Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa. 
  • Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pengajaran suatu bidang studi. 
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing. 
  • Pengajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered). 

Selain beberapa prinsip tersebut, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam pengajaran keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif.

Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. 

Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. 

Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.


Wahidin (2008) menyarankan beberapa hal berikut untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

  • Kuasai terlebih dahulu kemampuan-kemampuan berpikir dasar (induktif, deduktif dan reflektif).
  • Selalu bersikap skeptis tentang segala sesuatu!, benar/ tidak ?, cocok/ tidak dan lainnya.
  • Tanamkan dalam diri kita bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak selain yang datang dari Allah.
  • Latihlah hal-hal berikut.
    • Mengenali inti sebuah pernyataan.
    • Mengulang pernyataan dalam kalimat sendiri.
    • Mencari contoh untuk mengilustrasikan pernyataan.
    • Mengenali maksud di balik pernyataan.
    • Mencari kemungkinan penafsiran lain dari pernyataan.
    • Membedakan antara inti pernyataan dengan alasannya.
    • Memeriksa antara pernyataan denggan alasannya.
    • Merumuskan pertanyaan dengan jelas dan benar.
    • Membedakan antara fakta dengan opini atau penafsiran.
  • Yakini bahwa selalu ada kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dari suatu pernyataan.
  • Yakini bahwa tidak ada larangan untuk berpikir kritis dan berpendapat lain.
  • Yakini bahwa pendapat orang banyak belum tentu benar.
  • Yakini bahwa berpikir kritis adalah juga kunci untuk maju.
  • Selalu dahului keputusan yang kita ambil sekecil apapun dengan berpikir nalar (menggunakan logika).
  • Jika kita ingin berpikir kritis, jangan lupa pula bahwa orang lain pun mau. Siapkah ???


Peranan kita sebagai guru untuk mengembangkan berpikir kritis dalam diri siswa adalah sebagai pendorong, fasilitator, dan motivator. 

Berpikir kritis dapat dipelajari dan ditingkatkan bahkan pada usia dewasa. 

Agar proses berpikir kritis terjadi dalam pembelajaran diperlukan adanya perencanaan yang spesifik pada materi, konstruk, dan kondisi. 

Materi dalam kurikulum hendaknya disusun secara sistematis agar dapat dengan mudah diasimilasi. 

Konstruk bertujuan agar siswa dapat membangun struktur kognitifnya. 

Kondisi dimaksudkan agar siswa belajar sesuai dengan urutan untuk mengembangkan struktur kognitifnya dan menggunakannya dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. 

Mengingat pentingnya melatihkan berpikir kritis selama pembelajaran, selayaknya kita memberikan perhatian pada keterampilan tersebut selama pembelajaran karena siswa atau mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka baik pula kemampuannya dalam menyusun strategi dan taktik agar dapat meraih kesuksesan dalam persaingan global di masa depan.

Demikianlah pembahasan terkait Langkah-langkah Berpikir/ Bernalar Kritis, semoga dapat bermanfaat.

Terima Kasih.

Salam Satu Data Pendidikan Indonesia.

Post a Comment for "Langkah-langkah Berpikir/ Bernalar Kritis"