Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Beberapa Negara
INFO DAPODIK & PENDIDIKAN - Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Beberapa Negara adalah tema atau judul dari tulisan ini.
Di kesempatan kali ini Admin akan membagikan informasi tentang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Beberapa Negara.
Untuk itu, silahkan Anda simak penjelasan dari Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Beberapa Negara di bawah ini.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) bertujuan menyeleksi calon mahasiswa yang diprediksi dapat meraih kesuksesan di jenjang pendidikan tinggi.
Selain itu, perguruan tinggi juga berupaya memastikan akses yang adil bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Untuk mencapai kedua tujuan tersebut, pengambil kebijakan di berbagai negara mengembangkan beragam sistem penerimaan mahasiswa baru.
Dalam perjalanannya, sistem penerimaan mahasiswa baru tersebut mengalami perubahan-perubahan berdasarkan evaluasi terhadap efektivitas, efisiensi dan keadilan sistem yang diberlakukan sebelumnya dengan mempertimbangkan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman.
Penyelenggaraan seleksi masuk perguruan tinggi di berbagai negara dapat dibedakan antara sistem yang mengadakan seleksi secara nasional, institusional, dan kombinasi keduanya.
Negara yang hanya menyeleksi calon mahasiswa secara nasional, antara lain Hongaria, Portugal, dan Denmark.
Adapun seleksi mahasiswa baru yang hanya dilakukan oleh masing-masing perguruan tinggi antara lain diterapkan di Amerika Serikat.
Negara yang menggunakan seleksi secara nasional dan institusional, antara lain Indonesia, China, Taiwan, dan Chile.
Sistem pendidikan di berbagai negara menggunakan beragam kriteria penerimaan mahasiswa baru.
Ada yang menggunakan satu kriteria dan ada yang menggabungkan beberapa kriteria.
Denmark, misalnya, hanya menggunakan performa akademik di jenjang pendidikan menengah sebagai satu-satunya kriteria seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Hongaria menggabungkan nilai yang diperoleh siswa di jenjang pendidikan menengah, skor hasil tes matrikulasi yang digunakan sebagai syarat kelulusan dan seleksi masuk perguruan tinggi, dan skor yang terkait dengan aktivitas, prestasi, dan latar belakang siswa.
Mayoritas perguruan tinggi di Amerika Serikat menggunakan beragam kriteria melalui penerimaan secara holistik, yang antara lain mencakup IPK di jenjang pendidikan menengah, skor tes masuk perguruan tinggi, prestasi non-akademik, aktivitas ekstrakurikuler, dan rekomendasi dari guru.
Indonesia, China, Taiwan, dan Chile misalnya, memiliki beberapa jalur seleksi dengan kriteria seleksi yang beragam untuk setiap jalurnya.
Tetapi, skor tes penerimaan mahasiswa baru masih merupakan kriteria utama seleksi masuk perguruan tinggi yang dilaksanakan secara nasional di China, Taiwan, dan Chile.
Berikut di bawah ini Admin akan memaparkan sistem seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang diterapkan di beberapa negara.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di China
China memiliki sejarah panjang dalam menjalankan sistem penerimaan mahasiswa baru secara nasional dengan didasarkan semata-mata pada hasil ujian yang dikenal dengan Gaokao (Liu et al., 2014).
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) berdasarkan pada hasil ujian ini dipandang transparan dan adil, tetapi telah menumbuhkan pendidikan berorientasi pada ujian jenjang pendidikan dasar dan menengah (Wu et al.,2019).
Di samping itu, seleksi nasional ini kerap dikritik karena hanya memberi sedikit pilihan pada siswa, melumpuhkan minat dan kreativitas siswa, dan menimbulkan kecemasan pada diri siswa (Wang, 2020).
Sebagai salah satu upaya me-reformasi sistem penerimaan mahasiswa baru, sejak tahun 2003, Kementerian Pendidikan China memberi otonomi pada perguruan tinggi terkemuka untuk menyelenggarakan seleksi mandiri yang dikenal dengan Independent Freshman Admission Program (IFAP) dengan tujuan mengidentifikasi dan merekrut calon-calon mahasiswa potensial, namun tidak terjaring melalui sistem Gaokao (Wu et al., 2019).
Ketika program ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2004, hanya ada 2 (dua) perguruan tinggi dilibatkan, yaitu Peking University dan Tsinghua University dengan hanya lima persen kuota mahasiswa baru yang disediakan (Liu et al., 2014).
IFAP diselenggarakan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan menggunakan strategi seleksi secara bertahap yang meliputi seleksi berkas, ujian tulis, dan interviu kelompok (Liu et al., 2014).
Komponen terpenting dalam seleksi berkas ini adalah surat rekomendasi yang ditandatangani oleh perguruan tinggi yang diberikan pada sekolah-sekolah top dengan kuota tertentu.
Ujian tulis yang diselenggarakan pada IFAP serupa dengan Gaokao yang meliputi tiga mata pelajaran utama, yaitu Sastra China, Matematika, dan Bahasa Inggris serta dua mata pelajaran pilihan yang bergantung pada pengelompokan Gaokao yang dipilih calon mahasiswa, yaitu Sejarah dan Politik bagi calon mahasiswa yang memilih program studi pada rumpun sosial dan humaniora, serta Fisika dan Kimia bagi mahasiswa yang memilih program studi pada rumpun sains dan teknik.
Wawancara kelompok bertujuan menggali kualitas dan bakat calon mahasiswa secara menyeluruh dengan topik beragam yang biasanya tidak terkait langsung dengan pengetahuan yang diperoleh di kelas.
Reformasi prosedur penerimaan mahasiswa baru lainnya diujicobakan di Shanghai dan Zhejiang pada tahun 2014 sebagai salah satu bentuk respons atas kritik terhadap Gaokao (Wang, 2020).
Berdasarkan prosedur baru tersebut, siswa di Shanghai, misalnya, dapat memilih tiga dari enam alternatif mata pelajaran yang diujikan.
Secara keseluruhan, terdapat 20 kombinasi mata pelajaran yang diujikan.
Skor siswa ditentukan oleh ranking siswa untuk setiap mata pelajaran yang diujikan.
Sebagai contoh, 5% siswa teratas mendapat skor 70, 6%-15% siswa teratas mendapat skor 70, 15-25% siswa teratas mendapat skor 64.
Adapun skor total ditentukan oleh skor mentah tiga mata pelajaran wajib dan skor berdasarkan ranking pada tiga mata pelajaran pilihan.
Sebagaimana dipaparkan Wang (2020), meskipun mayoritas perguruan tinggi masih menggunakan skor total tes seleksi masuk perguruan tinggi sebagai kriteria seleksi, beberapa perguruan tinggi terkemuka di Shanghai memiliki kesempatan untuk menyeleksi calon mahasiswa baru menggunakan penerimaan secara holistik, misalnya dengan mempertimbangkan hasil wawancara, potensi kepemimpinan, dan kegiatan ekstrakurikuler, serta mengadakan tes tersendiri. Selain itu, siswa di Shanghai dapat mengulang tes bahasa Inggris dan menyerahkan skor yang lebih tinggi (Wang, 2020).
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Korea Selatan
Dalam upaya mereformasi sistem seleksi mahasiswa baru yang selama ini dipandang sangat membebani siswa dengan pendidikan berorientasi pada ujian ke arah pendidikan yang lebih holistik.
Pemerintah Korea Selatan menginisiasi 2 (dua) kebijakan pendidikan baru: sekolah menengah atas khusus dan sistem penerimaan mahasiswa yang bervariasi (Tan & Yang, 2019).
Kebijakan pertama memberi kesempatan pada orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah yang dapat membantu mengembangkan bakat anak di bidang tertentu, misalnya bahasa asing, seni, dan olahraga.
Sekolah jenis ini juga dikenal sebagai sekolah dengan tingkat kelulusan tinggi pada seleksi masuk perguruan tinggi dibandingkan dengan jenis sekolah menengah atas lainnya.
Konsekuensinya, kebijakan baru ini justru menimbulkan tekanan yang lebih besar pada siswa untuk dapat diterima di sekolah menengah atas khusus tersebut dan semakin menyuburkan bimbingan belajar.
Kebijakan kedua memungkinkan siswa untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui dua jalur utama: berdasarkan prestasi akademik dan non-akademik di jenjang pendidikan menengah dan berdasarkan skor seleksi masuk perguruan tinggi (CSAT).
Selain dua jalur utama tersebut, perguruan tinggi juga dapat mengajukan persyaratan-persyaratan lain, misalnya esai, wawancara, dan tes skolastik.
Adanya jalur seleksi yang menggunakan prestasi akademik dan non-akademik justru menambah tekanan yang dirasa siswa karena harus bersaing secara akademik dan non-akademik (Tan & Yang, 2019).
Performa non-akademik digunakan sebagai salah satu kriteria seleksi dan meningkatkan meningkatkan persaingan untuk dapat diterima di sekolah menengah atas khusus yang telah dikenal dengan berbagai aktivitas non-akademik.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Taiwan
Seleksi masuk perguruan tinggi di Taiwan telah mengalami perubahan, baik dalam mekanisme penyelenggaraan maupun kriteria seleksi yang digunakan.
Seperti halnya negara-negara di Asia Timur, Taiwan merupakan salah satu negara yang pernah menggunakan hasil tes seleksi masuk perguruan tinggi sebagai satu-satunya kriteria dalam penerimaan mahasiswa baru, yang diyakini sebagai pendekatan yang paling adil karena dipandang memberi kesempatan yang sama pada semua orang dengan berbagai latar belakang (Lin & Liou, 2019).
Antara tahun 1954 dan 1994, seleksi masuk perguruan tinggi didasarkan pada hasil Joint College Entrance Examination (JCEE) yang dijalankan oleh perguruan tinggi yang berbeda secara bergantian setiap tahunnya (College Entrance Examination Center, 2019c).
Pada tahun 1989, Kementerian Pendidikan Taiwan mendirikan ROC College Entrance Examination sebagai upaya sentralisasi pelaksanaan ujian dan proses penerimaan mahasiswa baru, serta meningkatkan kualitas JCEE yang kemudian dilakukan reorganisasi sebagai yayasan non-profit pada tahun 1993 dengan nama College Entrance Examination Center.
Sejak tahun 2002, Pemerintah Taiwan mulai menerima mahasiswa baru melalui tiga jalur seleksi, yaitu Star Program (SP), personal application (PA), dan admission by examination and placement (AEP) (Lin & Liou, 2019).
SP merupakan jalur terbaru dalam sistem seleksi yang bertujuan menjaring siswa berprestasi dari sekolah-sekolah yang selama ini kurang terwakili di perguruan tinggi, yang biasanya terletak di daerah pinggiran atau pun daerah miskin.
Jalur yang kedua, yaitu PA, menggunakan pendekatan holistik.
Baik SP maupun PA mewajibkan siswa mengikuti General Scholastic Ability Test (GSAT) yang dilaksanakan secara nasional pada bulan Januari ketika siswa berada kelas terakhir di jenjang pendidikan menengah.
Adapun siswa yang tidak diterima melalui SP dan PA dapat mengikuti Advanced Subjects Test (AST) yang dilaksanakan pada bulan Juli (Lin & Liou, 2019).
GSAT mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa pada mata pelajaran Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Sains yang didasarkan pada kurikulum di kelas 10 dan 11 (College Entrance Examination Center, 2019b).
Adapun AST mengukur pengetahuan dengan tingkatan lebih tinggi pada Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, Matematika I untuk mahasiswa yang memilih program studi sains dan teknik, Matematika II untuk mahasiswa yang memilih program studi sosial dan humaniora, Geografi, Sejarah, Fisika, Kimia, Biologi, dan Kewarganegaraan (College Entrance Examination Center, 2019a).
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Taiwan kembali mengalami perubahan dengan mulai diterapkannya kebijakan baru dalam penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi pada tahun 2022 dengan mendorong perguruan tinggi menggunakan kriteria seleksi yang lebih beragam dan mengurangi mata pelajaran yang diujikan pada tes masuk menjadi dua hingga tiga saja guna mengurangi beban siswa (Hsieh, 2019).
Sebelumnya, perguruan tinggi terkemuka mewajibkan siswa mengikuti tes masuk perguruan tinggi untuk lima mata pelajaran.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Amerika Serikat
Amerika Serikat menggunakan sistem seleksi yang diselenggarakan oleh masingmasing perguruan tinggi.
Secara umum, sistem seleksi tersebut dilakukan dalam dua cara, yaitu holistik dan otomatis (Black et al., 2016).
Seleksi mahasiswa baru secara holistik dilakukan dengan mempertimbangkan prestasi akademik yang biasanya diwakili oleh IPK di jenjang pendidikan menengah, skor tes seleksi masuk perguruan tinggi, seperti SAT/ ACT, skor ujian kelulusan yang diselenggarakan masing-masing negara bagian, atau pun jumlah mata pelajaran tingkat lanjut yang dapat diakui sebagai pengganti kredit mata kuliah yang harus diambil di perguruan tinggi, surat rekomendasi dari guru, dan catatan prestasi non-akademik, misalnya dalam bidang olahraga dan seni (Black et al., 2016).
Adapun penerimaan secara otomatis dilakukan berdasarkan ranking siswa di jenjang pendidikan menengah, nilai rapor di jenjang pendidikan menengah, hasil tes terstandar baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun lembaga independen, atau pun hasil tes masuk perguruan tinggi, baik yang diselenggarakan secara nasional maupun oleh masing-masing perguruan tinggi.
Selain tes yang terkait dengan kurikulum sekolah, tes potensi akademik (aptitude test) yang menggambarkan peluang siswa berhasil dalam mengikuti pendidikan di perguruan tinggi juga menjadi salah satu kriteria yang kerap digunakan (Black et al., 2016).
Pendidikan tinggi di negara bagian Texas, Amerika Serikat, misalnya, sejak tahun 1997 menerapkan kebijakan menerima 10 persen siswa terbaik berdasarkan ranking di setiap sekolah pada jenjang pendidikan menengah tanpa mempertimbangkan mutu masing-masing sekolah, yang dikenal dengan the Top 10% Plan (Black et al., 2016).
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut atas larangan yang ditetapkan oleh pengadilan pada tahun 1990-an terhadap program afirmasi dalam penerimaan mahasiswa baru yang sebelumnya diterapkan untuk menjamin akses bagi kelompok masyarakat yang cenderung termarjinalkan (Black, Cortes, & Lincove, 2016).
Perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat juga ada yang memberlakukan persyaratan skor tes masuk perguruan tinggi sebagai pilihan saja, yang dikenal dengan test-optional policy.
Perguruan-perguruan tinggi yang menerapkan test-optional policy memandang bahwa kebijakan ini lebih selaras dengan pendekatan seleksi mahasiswa secara holistik dan dapat meningkatkan keragaman latar belakang mahasiswa yang diterima (Bennett, 2022).
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Chile
Sejak tahun 1967 hingga 2003, seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri di Chile menggunakan tes kemampuan penalaran dasar verbal dan matematika APT test yang serupa dengan SAT I di Amerika Serikat dan serangkaian tes kompetensi akademik yang menguji matematika tingkat lanjut, fisika, biologi, kimia, dan pengetahuan sosial (Koljatic et al., 2013).
Akan tetapi, hanya beberapa kampus terkemuka saja yang mensyaratkan hasil tes kompetensi akademik.
Mayoritas perguruan tinggi di Chile menggunakan hasil APT test dan IPK di jenjang pendidikan menengah.
Pada tahun 2001, Kementerian Pendidikan mengumumkan rencana pengembangan tes penerimaan mahasiswa untuk menggantikan APT dengan tes yang mengukur kemampuan siswa dalam matematika, verbal (language skills), ilmu sosial, dan sains yang terkait dengan kurikulum nasional yang baru ACH test (Koljatic et al., 2013).
Rencana tersebut menyulut kontroversi di tengah masyarakat mengingat kesenjangan kualitas sekolah yang lebar sehingga tidak semua sekolah, terutama yang melayani masyarakat miskin, dapat memenuhi tuntutan minimal kurikulum.
Selain itu, tes prestasi akademik tersebut dipandang lebih menguntungkan siswa di sekolah umum daripada sekolah kejuruan mengingat adanya perbedaan jumlah jam pelajaran pada beberapa mata pelajaran yang diujikan.
Pada tahun 2004, ACH test mulai diterapkan dengan penyederhanaan materi yang diujikan sebagai bentuk transisi dari APT test, yaitu dengan hanya mewajibkan tes verbal dan matematika, sementara tes yang ketiga dapat dipilih dari mata pelajaran yang diwajibkan oleh program studi di perguruan tinggi yang dituju (Koljatic et al., 2013).
Setiap tahun materi yang diujikan terus ditambah sehingga pada tahun 2007 sudah diujikan sepenuhnya.
Ketika ACH test diterapkan pertama kali, terjadi penurunan peserta seleksi masuk perguruan tinggi sebanyak 15%, terutama dari lulusan sekolah-sekolah municipal (serupa dengan sekolah negeri dalam konteks Indonesia) sehingga pemerintah akhirnya membebaskan biaya tes bagi peserta tes dari keluarga yang kurang mampu.
Selain itu, hasil ACH test menunjukkan kesenjangan capaian antara lulusan sekolah-sekolah municipal dan sekolah swasta berbayar semakin melebar.
Meskipun demikian, pengembang tes berdalih bahwa kesenjangan capaian yang lebar tersebut tidak terkait dengan perubahan jenis tes, tetapi merupakan konsekuensi dari bertambahnya peserta tes dari kalangan yang kurang mampu (Koljatic et al., 2013).
Guna mengurangi keterkaitan antara status sosial ekonomi dan penerimaan di perguruan tinggi, sejak tahun 2013 Chile menggunakan ranking IPK di jenjang pendidikan menengah sebagai salah satu kriteria seleksi masuk perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta (Fajnzylber & Lara, 2018).
Skor ranking IPK tersebut memiliki bobot 10%, sementara IPK memiliki bobot antara 20% - 40% yang bergantung pada masing-masing program studi.
Skor ranking IPK tersebut merupakan penjumlahan konversi IPK menjadi skor tertentu dan bonus skor.
IPK dikonversi menjadi skor dengan rentang mulai dari 150 untuk IPK 4,0 (standar kelulusan minimum) hingga 850 untuk IPK 7,0 (sempurna).
Adapun bonus skor ditentukan berdasarkan performa IPK siswa dibandingkan dengan IPK rata-rata di sekolah dalam tiga tahun terakhir.
Pemerintah menggunakan rata-rata IPK historis dan bukan IPK rata-rata di sekolah saat ini untuk menghindari kompetisi antar siswa.
Seorang siswa tidak mendapatkan bonus bila memiliki IPK di bawah rata-rata historis.
Chile juga memiliki program khusus yang dijalankan oleh beberapa perguruan tinggi secara mandiri untuk meningkatkan akses siswa dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang kurang terwakili di perguruan tinggi.
Salah satunya yaitu program yang dimulai di Universidad de Santiago pada tahun 2006.
Universitas tersebut meniadakan persyaratan skor tes masuk perguruan tinggi bagi 10% siswa terbaik yang berasal dari sekolah-sekolah dengan performansi yang sangat rendah pada asesmen nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah (Koljatic & Silva, 2013).
Meskipun mahasiswa yang diterima melalui jalur khusus ini merupakan 10% siswa terbaik di sekolah mereka, prestasi akademik mahasiswa yang diterima di tahun pertama program ini diluncurkan ternyata mengecewakan.
Seleksi calon mahasiswa dari jalur ini kemudian diubah pada tahun 2007 dengan menyelenggarakan program remedial pada mata pelajaran matematika, bahasa, dan keterampilan komunikasi ketika siswa berada di kelas 12 (Koljatic & Silva, 2013; Santelices et al., 2019).
Program yang dikenal dengan Propaedeutic ini mensyaratkan siswa mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi (PSU) meskipun skor yang diperoleh tidak menjadi penentu.
Program-program serupa, tetapi dengan sasaran dan kriteria seleksi yang agak berbeda, antara lain the Educational Equity Priority Admission System (SIPEE) di University of Chile pada tahun 2010, dan the Talent and Inclusion Program (T + I) di Catholic University of Chile pada tahun 2011 (Santelices et al., 2019).
Program T + I menyasar siswa di sekolah negeri atau pun sekolah bersubsidi dengan pendapatan keluarga berada di empat kuintil (pengelompokan) terendah.
Adapun program SIPEE menargetkan siswa dengan pendapatan keluarga berada di tiga kuintil terendah.
Siswa harus memiliki nilai rata-rata di sekolah minimal 5,5 dan skor PSU minimal 600 atau 650 yang bergantung pada pilihan program studi.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Hongaria
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Hongaria dilakukan secara nasional menggunakan kombinasi prestasi belajar siswa di jenjang pendidikan menengah dan skor “Matura”, yaitu ujian matrikulasi yang berfungsi sebagai ujian kelulusan dari jenjang pendidikan menengah dan ujian masuk ke perguruan tinggi (Nagy & Molontay, 2021).
Matura terdiri atas empat mata pelajaran wajib, yaitu matematika, bahasa dan sastra Hongaria, sejarah, dan bahasa asing serta paling sedikit dua mata pelajaran pilihan, yang dapat dipilih pada tingkat normal atau lanjut.
Setiap program studi sarjana mewajibkan dua mata pelajaran Matura yang bergantung pada program studi yang dituju.
Program studi di perguruan tinggi menyeleksi calon mahasiswa berdasarkan university entrance score (UES) yang perhitungannya didasarkan pada tiga faktor, yaitu study points (maksimum 200 poin), Matura points (maksimum 200 poin), dan extra points (maksimum 100 poin) (Nagy & Molontay, 2021).
Study points diperoleh dari dua kali jumlah nilai empat mata pelajaran wajib dan satu mata pelajaran pilihan di bidang sains pada dua semester terakhir di jenjang pendidikan menengah (maksimum 100), serta skor rata-rata mata pelajaran yang diujikan pada Matura (maksimum 100 poin) sehingga skor maksimum study points yaitu sebesar 200 poin.
Matura points didapatkan dari jumlah skor dua mata pelajaran yang ditentukan oleh program studi yang dituju (maksimum 200 poin).
Extra points dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu memilih mata pelajaran Matura pada tingkat lanjut pada mata pelajaran yang relevan dengan pilihan program studi agar dapat memperoleh 50 poin per mata pelajaran, memiliki sertifikat bahasa asing dengan 28 poin untuk tingkat menengah dan 40 poin untuk tingkat lanjut, memiliki latar belakang keluarga dari kelompok sosial ekonomi lebih rendah, berkebutuhan khusus atau tinggal di panti asuhan, dengan maksimum poin yang dapat diperoleh sebesar 40.
Pelatihan vokasional tingkat tinggi dengan besaran poin yang bergantung pada hasil yang dicapai, prestasi pada kompetisi di bidang olahraga, seni, atau akademik dengan perolehan poin antara 10-100.
Total extra point yang dapat diperoleh, yaitu sebesar 100.
Perhitungan UES dilakukan melalui dua cara: umum dan khusus (Nagy & Molontay, 2021).
Skor pengetahuan umum merupakan penjumlahan study points, Matura points, dan extra points, sementara skor pengetahuan khusus dihitung tanpa menyertakan study points dengan formula dua kali Matura points ditambah extra points.
Skor pengetahuan umum dan skor pengetahuan khusus ini dibandingkan dan diambil yang tertinggi sebagai skor UES.
Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Denmark
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Denmark dilakukan secara nasional dan terpusat dengan menggunakan nilai siswa di jenjang pendidikan menengah sebagai satu-satunya kriteria seleksi (Albæk, 2017).
Untuk menjamin nilai yang diperoleh siswa dari sekolah-sekolah yang berbeda dapat disetarakan, Kementerian Pendidikan Denmark menyiapkan ujian-ujian tertulis yang wajib digunakan oleh semua sekolah di jenjang pendidikan menengah, penilaian dimonitor oleh Kementerian Pendidikan, dan ujian-ujian lisan dilaksanakan oleh guru dan moderator eksternal.
Lembaga yang menangani seleksi mahasiswa secara nasional dan terpusat meranking IPK siswa, kemudian siswa dengan IPK tertinggi diterima di program studi yang menjadi pilihan pertama siswa hingga kuota di program studi tersebut telah penuh.
Siswa yang tidak diterima pada pilihan pertama dialihkan ke pilihan kedua dan seterusnya selama kuotanya masih tersedia.
Lembaga penerimaan mahasiswa baru tersebut kemudian menyampaikan pemberitahuan kepada siswa terkait program studi dan universitas yang dapat menerima serta menyampaikan daftar mahasiswa yang diterima di masing-masing program studi pada setiap universitas.
Siswa yang tidak diterima pada program studi pilihan mana-pun akan dirujuk ke program-program studi yang masih belum memenuhi kuota (Albæk, 2017).
Demikianlah penjelasan di atas tentang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Beberapa Negara yang telah Admin paparkan, semoga dapat bermanfaat.
Terima Kasih.
Salam Satu Data Pendidikan Indonesia.
Daftar Pustaka
Albæk, K. (2017). Optimal admission to higher education. Education Economics, 25(1), 60–83. https://doi.or g/10.1080/09645292.2016.1194968
Bennett, C. T. (2022). Untested Admissions: Examining Changes in Application Behaviors and Student Demographics Under Test-Optional Policies. American Educational Research Journal, 59(1), 180–216. https://doi.org/10.3102/00028312211003526
Black, S. E., Cortes, K. E., & Lincove, J. A. (2016). Efficacy versus equity: what happens when states thinker with college admission in a race-blind era.Educational Evaluation and Policy Analysis, 38(2), 336–363. https://doi.org/10.3102/0162373716629006
Hsieh, T. L. (2019). A preliminary study of multiple college admission criteria in Taiwan: the relationship among motivation, standardized tests, high school achievements, and college success. Higher Education Research and Development, 38(4), 762–779. https://doi.org/10.1080/07294360.2019.1586841
Koljatic, M., & Silva, M. (2013). Opening a side-gate: engaging the excluded in Chilean higher education through test-blind admission. Studies in Higher Education, 38(10), 1427–1441. https:// doi.org/10.1080/03075079.2011.623299
Lin, J. J. H., & Liou, P. Y. (2019). Assessing the learning achievement of students from different college entrance channels: a linear growth curve modelling approach. Assessment and Evaluation in Higher Education, 44(5), 732–747. https://doi.org/10.1080/02602938.2018.1532490
Nagy, M., & Molontay, R. (2021). Comprehensive analysis of the predictive validity of the university entrance score in Hungary. Assessment and Evaluation in Higher Education, 46(8), 1235–1253. https://doi.org/10.10 80/02602938.2021.1871725
Santelices, Maria Veronica, Catalán, X., Horn, C., & Venegas, A. (2018). High school ranking in university admissions at a national level: Theory of action and early results from Chile. Higher Education Policy, 31(2), 159–179. https://doi.org/10.1057/s41307-017-0048-6
Santelices, MarÃa Verónica, Horn, C., & Catalán, X. (2019). Institution-level admissions initiatives in Chile: enhancing equity in higher education? Studies in Higher Education, 44(4), 733–761. https://doi.org/1 0.1080/03075079.2017.1398722
Tan, C., & Yang, J. A. (2019). Path-dependency or path-shaping? An analysis of the policy to target exam-orientation in South Korea. Critical Studies in Education, 62(2), 195–210. https://doi.org/10.1080/17508487.2019.1611612
Wang, J. (2020). A Motivation Perspective on College Admission Reform in Shanghai: The Effect of Providing More Choices and Multiple Evaluation Criteria. ECNU Review of Education. https://doi.org/10.1177/2096531120940327

Post a Comment