Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

10 Dimensi Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah

10-Dimensi-Kepemimpinan-Mandiri-Kepala-Sekolah

Seorang Kepala Sekolah yang mandiri harus memiliki dasar kepemimpinan yang dari berbagai dimensi. Berikut ini beberapa dimensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah:

Excelence in School Leadership [Petter and Austin]

  1. Vision and syimbols (Visi dan simbol-simbol).
  2. Management by walking about (Manajemen dengan mengutamakan praktek).
  3. For the kids (Berfokus pada anak/siswa).
  4. Autonomy, experimentation, and support for failure (Otonomi, percobaan, dan memperbaiki keaslahan).
  5. Crate of sense of family (Menciptakan rasa kekeluargaan).
  6. Sense of the whole rhythm, passion, intensity, and enthusiasm (Rasa, kesatuan ritme, kuat perasaan, intensitas, dan antusias).

Tough Minded Leadership [Joe D. Batten]

  1. Vision and stategy fueled by a tough, growing mind (Visi dan strategi yang didasari ketegaran dan pikiran yang berkembang).
  2. Commitment (Tanggung jawab).
  3. Optimal services throught optimum develpoment of people (Pelayanan optimal melalui pengembangan orang yang optimal).
  4. Ethical behavior (Perilaku yang etis).
  5. Hard and dedicate work (Dedikasi dan kerja keras).
  6. Build on strenghts (Membangun kekuatan).
  7. Clear (Jelas).
  8. Intuitive, sensing management (Intuisi, manajemen dengan perasaan).
  9. Ecpectations (Harapan-harapan).
  10. Performance is all the matters (Penampilan dalam berbagai hal).
  11. Flexibility (Fleksibel atau luwes).

Participative Leaadership [Keith and Girling]

  1. Creative vision (Visi yang kreatif).
  2. Build trust and organizational commitment (Membangun kepercayaan dan tanggung jawab).
  3. Projects Expertise (Mengembangkan keahlian).
  4. Developing the organization team (Mengembangkan organisasi atau tim).

Dari beberapa dimensi diatas, seorang kepala sekolah harus memiliki dasar kepemimpinan yang terdiri dari 10 (sepuluh) dimensi. Kesepuluh dimensi ini adalah hasil dari modifikasi dari dimensi-dimensi yang dikemukakan baik oleh Peter & Austin, Joe D. Batten, maupun Keith and Girling. Adapun 10 dimensi tersebut adalah sebagai berikut:

Dimensi Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah [Dadi Permadi]

  1. Visi yang utuh.
  2. Membangun kepercayaan dan tanggung jawab, pengambilan keputusan dan komunikasi (Hubungan sekolah dengan masyarakat).
  3. Pelayanan terbaik.
  4. Mengembangkan Sumber Daya Manusia.
  5. Membina rasa persatuan dan kekeluargaan.
  6. Fokus pada siswa.
  7. Manajemen yang memperhatikan praktek.
  8. Penyesuaian gaya kepemimpinan.
  9. Pemanfaatan kekuasaan.
  10. Keteladanan, ekstra inisiatif, jujur, berani, dan tawakal.

Berikut dibawah ini akan dijelaskan kesepuluh dimensi kepemimpinan mandiri kepala sekolah yang harus dimiliki dan merupakan dasar kepemimpinan dari seorang kepala sekolah dalam perannya memimpin satuan pendidikan dan juga sebagai manajer dari satuan pendidikan.

1. Visi yang Utuh

Visi sekolah adalah cara-cara memandang yang komprehensif, mendalam, dan jauh kedepan, serta melebihi batas ruang dan waktu serta tempat. Visi inilah yang harus menjadi atribut pemimpin saat ini termasuk juga seorang kepala sekolah yang memiliki visilah yang harus ada saat ini. 

Kepala Sekolah dengan visi yang dangkal dan tidak jelas akan membawa kepada kemunduran sekolah, visi yang sempit dan kabur akan menghasilkan sekolah yang jelek sehingga tidak akan disenangi oleh masyarakat.

Bagaimana agar seorang kepala sekolah mempunyai visi yang utuh tentang sekolah yang dipimpinnya? 

Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab. Kepala sekolah yang ingin memiliki visi yang utuh harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kepala sekolah adalah harus orang yang beragama dan taat akan agama yang dianutnya.
  2. Kepala sekolah harus memiliki niat yang baik sebagai kepala sekolah.
  3. Kepala sekolah harus memiliki keyakinan bahwa bekerja di lingkungan sekolah adalah panggilan jiwanya.
  4. Kepala sekolah harus memiliki keinginan untk memajukan sekolahnya.
  5. Tidak terlalu berambisi pada imbalan materi dari hasil pekerjaannya.

Visi kepala sekolah tentang sekolahnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Pengalaman hidup.
  • Pendidikan dan pelatihan.
  • Pengalaman profesional.
  • Interaksi dan komunikasi.

Idealnya visi sekolah yang diharapkan baik oleh pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat luas adalah yang sesuai dengan tuntunan zaman dimana pada saat ini semua pihak mengharapkan sekolah yang menghasilkan manusia-manusia unggul yang dapat bersaing atau competitive advantage. Sekolah diharapkan menjadi pusat keunggulan atau centre of excelence. Untuk hal tersebut maka diperlukan kepala sekolah yang memiliki visi yang utuh tentang sekolahnya. Visi yang utuh inilah yang bukan hanya berarti lengkap, sesuai tuntunan zaman, namun juga berorientasi ke masa depan.

Visi sekolah yang utuh dapat berarti juga bahwa visi tersebut dapat direalisasikan. Visi tersebut bukan hanya khayalan tetapi bisa dilaksanakan dan dapat menjadi kenyataan. Untuk merealisasikannya maka visi tersebut harus dokomunikasikan pada semua pihak, baik pada guru, staf, serta masyarakat luas terutama komite sekolah dan orang tua siswa.

Penelitian menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang berhasil dalam meningkatkan prestasinya dikarenakan oleh adanya visi yang sama antara sekolah, guru, staf, siswa, dan masyarakat luas. Melalui rapat dengan staf dan guru misalnya kepala sekolah mengkomunikasikan visi sekolah secara terbuka dan mendiskusikannya sampai matang dan hasil pemikiran bersama ini disesuaikan dengan berbagai pedoman dan informasi yang aktual. Setelah itu, barulah dibuat rencana-rencana sesuai dengn tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam membuat perencanaan atau rencana kegiatan, prinsip-prinsip manajemen yang lama dirumuskan dengan POAC (Planning, Organizing, Aktuating, dan Controlling) dalam manajemen yang modern sudah berubah di mana sebelum membuat perencanaan sebaiknya didahului dengan mengkaji informasi-informasi yang relevan. Informasi-informasi tersebut diterjemahkan terutama informasi yang aktual atau up to date. Kalau mungkin juga dilakukan penelitian terlebih dahulu dan dari hasil penelitian tersebut dijadikan salah satu data untuk mendukung rencana yang akan dibuat.

sebagai gambaran dapat diberikan contoh atau beberapa kasus seorang kepala sekolah yang mempunyai visi yang salah dan tidak mengkomunikasikan visi tersebut pada guru dan komite sekolah, pada awal tahun pelajaran atau awal tahun ajaran baru banyak kepala sekolah yang menerima peserta didik baru tanpa memperhatikan usianya, hanya karena ingin memenuhi kuota dalam satu rombel atau target kuantitas tertentu. Padahal sudah jelas dalam Permen tentang PPDB tentang juknis PPDB yang setiap tahunnya terbit atau bahkan diperbarui. Dalam kasus ini jelas terlihat bahwa kepala sekolah tersebut memiliki visi yang salah tentang penerimaan siswa baru. Di samping itu tidak mengkaji informasi aktual tentang berbagai peraturan termasuk larangan dalam rangka penerimaan siswa baru.

Visi juga harus terbentuk setelah kepala sekolah menganalisa dengan cara SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Threats), lebih jelasnya tentang analisa SWOT tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Strenght adalah kekuatan dalam arti segala sumber daya bisa dikategorikan dapat mendukung kelancaran proses belajar mengajar seperti guru, sarana dan prasarana, staf administrasi, komite sekolah, dan sumber-sumber lainnya. Sumber daya ini harus diukur berdasarkan ketentuan-ketentuan faktual serta kemungkinan pengembangan lebih lanjut.

Weaknesses adalah kelemahan dalam arti apakah sumber daya termasuk mempunyai berbagai kelemahan, misalnya jumlah guru kurang dan pendidikan guru belum memenuhi standar yang telah ditetapkan/ideal, sarana dan prasarana serta bangunan dan isinya apakah layak dipakai dan cukup, serta komite sekolah apakah mendukung bila diajak bicara tentang program-program perbaikan sekolah.

Opportunities adalah kesempatan dalam arti peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai hambatan dan kekurangan-kekurangan tersebut bisa berupa kesempatan untuk melanjutkan studi bagi guru dalam rangka meningkatkan kualitas mengajar, kesempatan untuk mengadakan kerjasama dengan pihak lain yang saling menguntungkan, serta kesempatan-kesempatan lainnya.

Threats adalah ancaman dalam arti tekanan dari dalam dan dari luar pada sekolah. Threats juga bisa diartikan tantangan yang dihadapi sekolah seperti perlunya meningkatkan hasil belajar siswa. Tantangan ini tentunya harus dijawab dengan program-program sekolah yang mengarah kepada tujuan tersebut.

Visi juga harus didasarkan pada nilai-nilai suci (creed) serta hati murni atau tulus. 

Ada peribahasa bahwa: "Tidak ada hati nurani yang palsu".

Hati nurani tentunya berhubungan dengan nilai-nilai suci, sedangkan nilai-nilai suci berhubungan dengan agama yang dianut oleh masing-masing. Pemimpin yang mandiri pasti punya hati nurani, dan hati nurani seorang pemimpin yang mandiri pasti juga berorientasi pada keinginan membantu orang lain dengan optimal. Untuk orang Islam segala pekerjaan harus dilandasi oleh ibadah. Apabila hal ini terwujud, maka akan lebih lengkap lagi dalam membangun visi yang utuh.

Visi kepala sekolah harus dinyatakan dengan jelas dan tidak usah muluk-muluk. Yang paling penting visi tersebut bisa dimengerti oleh semua pihak yang nyata. Visi sekolah yang dinyatakan oleh kepala sekolah tidak juga yang terlalu sederhana. Jadi visi yang baik atau tepat bagi sekolah adalah yang wajar, nyata, dan tidak terlalu sulit untuk dicapai. Yang paling penting bagwa visi tersebut adalah bermakna bagi semua orang atau masyarakat luas.

Berikut beberapa contoh visi sekolah yang sederhana adalah sebagai berikut:

  • TK, siswa siap memasuki SD dengan moral dan mental yang baik.
  • SD, siswa berprestasi dan siap memasuki SMP yang bermutu.
  • SMP, siswa berprestasi dan siap memasuki SMA yang bermutu.
  • SMA, siswa berprestasi dan siap melanjutkan ke Pergguruan Tinggi yang bergengsi.
  • Madrasah, siswa berprestasi, ber-akhlaqulkarimah, dan menjadi muslimin dan muslimat yang taat.
  • SMK, (1) siswa siap memasuki dunia kerja dan mandiri, (2) merubah manusia beban menjadi manusia aset.

2. Membangun Kepercayaan dan Tanggung Jawab, Pengambilan Keputusan dan Komunikasi

Rasa percaya diri adalah perekaat dalam bertindak sesuatu, dengan percaya diri seseorang bisa berkomunikasi dengan baik dan bagi seorang kepala sekolah rasa percaya diri ini merupakan salah satu dasar dalam memimpin sekolah. Upaya-upaya meningkatkan rasa percaya diri adalah sengan selalu belajar tentang berbagai hal yang diperlukan.

Tanggung jawab adalah beban yang harus dipikul dan melekat pada seorang kepala sekolah. Segala tindakan oleh semua staf sekolah adalah merupakan tanggung jawab kepala sekolah. Memikul tanggung jawab adalah kewajiban seorang pemimpin dalam berbagai situasi dan kondisi. Tanggung jawab juga akan berkaitan dengan resiko yang akan dihadapi oleh seorang pemimpin. Resiko bisa berupa sanksi dari atasan atau pihak lain yang berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan, baik langsung yang dilakukan oleh kepala sekolah maupun oleh staf. 

Tanggung jawab seorang pemimpin harus dibuktikan bahwa kapan saja dia harus siap untuk melaksanakan  tugas (A Bias for Action). Pemimpin harus tetap siaga bila ada perintah dari yang lebih atas. Untuk itu, seorang kepala sekolah harus seorang pekerja keras (Hard Worker) dan berdedikasi (Dedicated Employer). 

Bila seorang pemimpin tidak mau bertanggung jawab dan mengambil resiko jangan jadi pemimpin. 

Karena pemimpin yang baik, dia harus seorang yang mau mengambil resiko dan mau mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat, baik oleh dirinya maupun oleh bawahannya.

Tanggung jawab juga mengisyaratkan bahwa pemimpin juga harus menjalin hubungan yang harmonis (To Maintain Harmony) dan mencegah terjadinya konflik (Conflict Prevention) karena akan sangat merugikan bagi lembaga atau sekolah. 

Pengambilan keputusan dan komunikasi akan dibahas pada artikel selanjutnya.

3. Pelayanan Terbaik

Memberi pelayanan yang terbaik adalah salah satu upaya menumbuhkan kepercayaan konsumen. Bila peserta didik diibaratkan sebagai konsumen, maka diperlukan upaya-upaya untuk memberikan pelayanan terbaik, agar mereka dapat atau bisa belajar dengan optimal terutama di sekolah. Customer Satisfaction atau kepuasan pelanggan adalah harus diutamakan dalam kegiatan bisnis. Biarpun pendidikan "bukan" bisnis, kegiatan pelayanan terhadap peserta didik tetap harus diutamakan. Pelayanan bagi peserta didik bukan hanya berbentuk pelayanan dari guru, tetapi juga dari pihak staf administrasi. Apabila terjadi hal-hal yang dapat mengurangi pelayanan, kepala sekolah harus segera mengambil langkah-langkah positif agar kepercayaan kembali normal. Kepuasan peserta didik sebagai pelanggan akan dapat meningkatkan citra sekolah. Citra yang baik dari masyarakat akan sekolah tentu meningkatkan gengsi sekolah tersebut sehingga sangat disenangi oleh masyarakat dan akhirnya menjadi sekolah pilihan utama diantara pilihan-pilihan lainnya.

Berbeda dengan pabrik industri di mana konsumen menyenangi pihak tertentu dan menjadi pelanggan karena alasan-alasan, antara lain harganya murah atau dapat terjangkau, sekolah yang "favorit", dan banyak peminatnya bisa saja mahal biayanya. Biarpun mahal peminat tetap saja menyenangi sekolah tersebut karena berbagai alasan dan yang utama adalah karena mutunya.

Masalah mutu akan menyangkut juga masalah pelayanan. Pelayanan yang terbaik atau pelayanan prima (Excellence Services) sangat diperlukan di setiap sekolah agar para peserta didik betah di sekolah dan bisa belajar dengan optimal. 

Beberapa upaya dalam memberikan pelayanan terbaik antara lain bisa dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Disiplin kehadiran guru.
  2. Sikap ramah dari guru (The Smiling Teacher).
  3. Sikap yang ramah dan pelayanan yang cepat dari para pegawai tata usaha.
  4. Memberi penghargaan (pujian) yang wajar kepada peserta didik yang membuat prestasi.
  5. Memberi teguran yang wajar dan tanpa menyinggung perasaan terhadap peserta didik yang melakukan pelanggaran.
  6. Memberi pelajaran tambahan bagi peserta didik yang memerlukan tambahan belajar.
  7. Bersikap ramah dan kooperatif dengan orang tua peserta didik.
  8. Membantu peserta didik yang mengalami musibah dengan optimal.
  9. Menjaga keharmonisan dengan instansi terkait baik atasan maupun lainnya.
  10. Memperbaiki pelayanan yang kurang memuaskan.

Memberi pelayanan terbaik yang merupakan tujuan utama adalah modal untuk menarik minat konsumen. Apa yang disarankan dalam dunia bisnis kiranya cocok, bahwa untuk adanya kepuasan dari konsumen dalam hal ini peserta didik perlu dengan dengan konsumen (Close to the Consumer) disamping ada keinginan dari kepala sekolah untuk menjadi sekolah yang memberi pelayanan terbaik (Hands on Value Driven). Pelayanan juga jangan setengah-setengah tetapi harus tuntas (Stick to the Knitting) agar pihak yang dilayani merasa puas (Consumer Satisfaction). Kepuasan inilah yang akan meningkatkan kepercayaan kepada sekolah atau satuan pendidikan.

4. Mengembangkan Sumber Daya Manusia

Dalam rangka optimalnya sumber daya manusia di sekolah, diperlukan upaya agar staf sekolah baik guru maupun staf administrasi berkembang baik kemampuannya maupun karirnya. Hal ini kan memberi dampak terhadap mutu pelayanan yang bisa diberikan, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan mutu belajar mengajar.

Seorang pemimpin seperti kepala sekolah harus jeli melihat potensi bawahannya agar potensi tersebut bisa dikembangkan bagi kepentingan sekolah. Seorang manajer yang baik tidak akan melihat bawahannya dari sudut kekurangannya, tetapi dari segi kelebihannya. Untuk itu, kepala sekolah sebagai manajer harus dapat mengenal kelebihan-kelebihan yang ada pada guru dan pegawai stafnya. Kalaupun ada kekurangan, tentunya kekurangan tersebut menjadi bahan untuk dapat diatasi oleh kepala sekolah. 

Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam memgembangkan bawahannya, antara lain dengan memberi tugas-tugas yang cocok dan cukup menantang, memberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, serta memberi penghargaan pada bawahan yang membuat prestasi dalam pekerjaannya.

Mengembangkan staf seperti guru dan karyawan administrasi adalah upaya agar mereka bisa dapat lebih optimal dalam bekerja sama (Collaboration Through People). Hal ini juga berhubungan dengan menghargai kemampuan staf (Staff Recognition). 

5. Membina Rasa Persatuan dan Kekeluargaan

Rasa persatuan penting untuk dibina karena tanpa ada persatuan dalam organisasi tidak mungkin seluruh program kerja dapat diselesaikan. Membina rasa persatuan perlu dilaksanakan oleh kepala sekolah melalui cara-cara, baik formal seperti pembinaan rutin melalui rapat-rapat maupun melalui acara-acara kekeluargaan, seperti menjenguk guru atau staf yang terkena musibah seperti sakit atau mendapat kecelakaan dan kunjungan kekeluargaan, seperti pernikahan, khitanan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. 

Melalui pembinaan, rasa persatuan dan kekeluargaan, staf sekolah seperti guru dan pegawai administrasi akan merasa diperhatikan oleh atasannya dan sebagai timbal baliknya mereka akan memperhatikan tugas-tugas yang harus dikerjakannya.

6. Fokus pada Peserta Didik

Kebutuhan utma yang harus dipenuhi oleh kepala sekolah adalah bahwa peserta didik harus dapat belajar dengan optimal. Proses belajar (Learning Process) harus menjadi perhatian utama dari kepala sekolah, segala fasilitas yang ada harus diarahkan pada kegiatan belajar peserta didik.

Karena dengan belajar yang optimal paling tidak peserta didik dapat diberi pelayanan yang baik. Pelayanan yang prima harus diberikan pada peserta didik bukan hanya pada peseeta didik yang normal, tetapi juga perlu diberikan kepada peserta didik yang mempunyai masalah seperti peserta didik yang lambat belajar (Slow Learner) dimana peserta didik seperti ini harus diberikan pelajaran yang agak berbeda. 

Pelayanan peserta didik juga harus diarahkan pada tersedianya sarana-sarana yang diperlukan oleh peserta didik, seperti buku-buku, alat-alat tulis, alat-alat olahraga, dan lain-lain. Pelayanan yang lainnya adalah menyangkut kesehatan peserta didik seperti perlunya P3K denagn anggota PMR yang sudah terlatih.

Perhatian kepada peserta didik juga termasuk bagaimana memperhatikan motivasi belajar mereka. Peserta didik yang belajarnya masih memerlukan motivasi dibimbing dengan menugaskan Guru BP/BK. Untuk di SD dan TK atau MI dan RA, guru bawahannya dibina oleh kepala sekolah agar dapat bertindak sebagai conselor. Bila diperlukan dapat meminta bantuan pihak lain. Misalnya perguruan tinggi yang mempunyai pelayanan bimbingan. Kerjasama dengan perguruan tinggi ini akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan bantuan yang tepat, terutama dalam meningkatkan gairah belajar peserta didik.

7. Manajemen yang Mengutamakan Praktek

Seorang kepala sekolah harus pandai berteori dan pandai juga mempraktekkan gagasan tersebut dalam tindakan-tindakan nyata. Dalam manajemen modern sering dinyatakan bahwa apa yang diperbuat oleh pemimpin tidak akan dilihat prestasinya melainkan akan dilihat hasilnya. Apabila hasilnya sesuai dengan rencana dan harapan berarti pemimpin tersebut berhasil dalam tugasnya. Untuk berhasilnya seorang pemimpin diperlukan dedikasi dan loyalitas yang tinggi pada tugasnya. Di samping itu, pemimpin juga harus pula energik dalam arti penuh tenaga dalam melaksanakan tugasnya.

Praktek adalah tindakan yang nyata dari seorang kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinannya. Kepala sekolah jangan hanya pandai berteori tetapi harus melakukan berbagai tindakan nyata yang dapat menghasilkan sesuatu. Para bawahan sering menyebut kelakuan pemimpin yang hanya berteori dengan istilah pemimpin NATO (No Action Talk Only). Sebutan ini jangan sampai diutarakan pada diri kepala sekolah karena akan sangat tidak mengenakkan.

8. Penyesuaian Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan yang cocok untuk diterapkan di dalam manajemen pendidikan terutama di tingkat sekolah dan kantor-kantor pendidikan adalah gaya kepemimpinan situasional. 

Gaya kepemimpinan situasional yang merupakan gaya dasar dalam memimpin sekolah adalah gaya kepemimpinan yang paling cocok untuk diterapkan.

Menurut Hersey Blancard, gaya kepemimpinan situasional adalah gaya kepemimpinan yang terdiri dari 4 gaya, yaitu:

  1. Gaya Directing (mengarahkan).
  2. Gaya Konsultating (konsultasi) atau Coaching (melatih).
  3. Gaya Partisipating (partisipasi).
  4. Gaya Delegating (pelimpahan wewenang).

Keempat gaya tersebut harus disesuaikan dengan tingkat kematangan dari pengikut atau bawahan di mana bawahan atau pengikut yang bila dihubungkan dengan persekolahan adalah guru-guru dan staf administrasi, dan pada saat ini belum dikatan pengikut atau bawahan yang 100% matang dalam melaksanakan tugasnya.

Dengan demikian, kepala sekolah sebagai pemimpin dari sekolah harus lebih banyak memakai gaya kepemimpinan situasional pertama (Directing) karena mereka harus lebih banyak diarahkan dalam melaksanakan tugasnya. Gaya lainnya memang sering juga dipakai seperti gaya keempat (Delegating) namun biasanya dipakai pada guru atau staf administrasi yang sudah matang dalam melaksanakan tugasnya.

Selanjutnya, kepala sekolah perlu keterampilan dalam merubah gaya kepemimpinan, kapan gaya-gaya tersebut dapat digunakan di samping perlu banyak mempelajari situasi dan kondisi bawahannya agar pemakaian gaya kepemimpinan sesuai dengan tingkat kematangan bawahan.

9. Pemanfaatan Kekuasaan Keahlian

Banyak teori kekuasaan yang telah diceritakan oleh para ahli, namun dari sejumlah teori dan strategi tersebut teori dari French dan Raven merupakan teori yang bisa dipakai secara luas, seperti kita ketahui bahwa kekuasaan (power) erat sekali hubungannya dengan kepemimpinan (leadership) karena keduanya merupakan alat untuk mempengaruhi orang lain. Dari teori-teori tentang kekuasaan dapat disimpulkan bahwa kekuasaan adalah "Kemungkinan dan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain". Kekuasaan bisa juga berarti aktivitas dalam melaksanakan kehendak atau keninginan.

Menurut French dan Raven, kekuasaan dibagi menjadi 5 macam, yaitu:

  1. Coercive power (kekuasaan paksaan), yaitu kekuasaan yang berdasarkan rasa takut atau dengan paksaan.
  2. Expert power (kekuasaan keahlian), yaitu kekuasaan yang bersumber dari suatu keahlian atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang.
  3. Legitimate power (kekuasaan legitimasi), yaitu kekuasaan yang berasal dari kedudukan atau jabatan baik formal maupun informal yang dipegang oleh seseorang.
  4. Referent power (kekuasaan referensi), yaitu kekuasaan yang bersumber pada sifat-sfat pribadi yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
  5. Reward power (kekuasaan penghargaan), yaitu kekuasaan yang bersumber dari hadiah atau penghargaan yang diberikan oleh pemimpin, seperti pangkat, kenaikan gaji, dan lain-lain.

Selanjutnya, French dan Raven menambahkan dengan kekuasaan yang keenam, yaitu Information power (kekuasaan informasi), yaitu bersumber dari adanya informasi yang berharga pada diri pemimpin, di mana sang pemimpin dianggap sebagai orang yang paling banyak mempunyai informasi yang diperlukan atau penting.

Sebagai seorang kepala sekolah teori kekuasaan ini perlu dicermati dan diperhitungkan, bahkan dalam perbuatannya harus benar-benar efektif. Pemanfaatan kekuasan yang dikembangkan dengan gaya kepemimpinan adalah diperlukan dalam rangka menghasilkan adanya partisipasi yang optimal dari bawahan.

Pada saat ini kepala sekolah belum bisa memanfaatkan kekuasaan keahlian (Expert power) dikarenakan "belum" ada kepala sekolah yang profesional. Pelatihan calon kepala sekolah tampaknya belum menyentuh aspek-aspek yang substansional yang menyangkut perannya. Upaya-upaya meningkatkan profesionalisme yang pada intinya meningkatkan kemandirian perlu ditambahkan dalam pelatihan.

Upaya-upaya yang strategis agar kepala sekolah mempunyai kekuasaan keahlian dan informasi kiranya diperlukan upaya, antara lain melalui pembinaan kemandirian dari para pejabat terkait. Upaya secara sendiri adalah dengan mengikuti acara-acara pertemuan ilmiah, seminar, lokakarya, diskusi, serta dengan membaca buku-buku artikel ilmiah. Upaya ini akan menambah wawasan dan tentunya akan menambah informasi.

10. Keteladanan, Ekstra Inisiatif, Jujur, Berani, dan Tawakal

Dimensi yang tidak kalah pentingnya dalam kepemimpinan mandiri adalah pentingnya keteladanan. Kepala sekolah yang bisa menjadi teladan bagi bawahannya memang sulit untuk ditemui. Namun demikian, melalui pembinaan yang insentif hendaknya masalah keteladanan ini perlu untuk selalu diingatkan. Satu kata dengan perbuatan adalah pepatah yang harus selalu diingat oleh para kepala sekolah. Tingkah laku kepala sekolah yang selalu menjadi contoh yang baik bagi bawahannya akan menjadi salah satu modal utama bagi lancarnya manajemen sekolah atau satuan pendidikan.

Pada saat ini memang di dunia pendidikan juga terkena krisis keteladanan. Namun betapa salahnya kita sebagai pemimpin bila tidak memulai untuk menjadi teladan dalam berbagai hal agar kita menjadi contoh yang bisa ditiru bagi bawahan kita, seperti dalam hal kehadiran, berpakaian, berbicara, dan lain-lain.

Dengan perilaku yang menunjukkan keteladanan dalam berbagai hal tidak terlalu sulit bila kepala sekolah untuk menegur bawahannya. Dengan keteladanan kepala sekolah, guru, dan staf pegawai akan segan pada kita, dan pada gilirannya nanti mereka juga akan meniru apa yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Perilaku keteladanan kepala sekolah bisa ditunjukkan pula dengan selalu menghargai bawahan. Dengan merasa bahwa guru dan staf dihargai berbagai pendapatnya, dia akan dapat pula menghargai pihak lain seperti para peserta didik. Penghargaan tidak harus berupa materi karena bisa juga ungkapan-ungkapan yang menyenangkan, dengan kata-kata "bagus", terima kasih, saya sangat senang dengan apa yang anda lakukan, dan lainnya. Perilaku keteladanan ini hanyalah salah satu contoh dari perilaku lainnya.

Sifat yang harus dijumpai pada para kepala sekolah bukan hanya sifat-sifat yang berhubungan dengan tipe kepemimpinan seperti demokratis atau kompromiser tetapi juga harus dibarengi dengan sifat-sifat seperti mau memperhatikan etika. Etika adalah menyangkut dengan etis atau hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat ini harus dijadikan pegangan dalam bertindak agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. 

Ekstra inisiatif adalah inisiatif yang harus ada pada diri kepala sekolah, sedangkan kejujuran harus ada dengan tindakan atau perbuatan yang mencerminkan keterbukaan atau istilah lain transparan dalam berbagai hal terutama dalam masalah keuangan.

Sifat berani adalah sifat yang berhubungan dengan kemampuan untuk mengambil resiko dengan penuh perhitungan. Dalam peribahasa ada dikatakan berani karena benar, takut karena salah. Keberanian bertindak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku harus ada pada diri seorang kepala sekolah.

Ketawakalan merupakan sifat yang berhubungan dengan menyerahkan diri pada Tuhan bila berbagai ikhtiar yang telah dilakukan belum memuaskan. Di samping itu, sifat tawakal dicerminkan dengan berdo'a sesuai dengan kepercayaan masing-masing agar segala upaya dan ikhtiar dapat berhasil dengan memuaskan dan sesuai dengan yang diharapkan. Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah bila melakukan upaya atau ikhtiar hendaknya kepala sekolah melakukannya dengan optimal atau segala daya dan upaya dikerahkan.

Terima Kasih dan semoga bermanfaat...

Salam Literasi!

Post a Comment for "10 Dimensi Kepemimpinan Mandiri Kepala Sekolah"